Breaking News:

Pelajar Nakal di Jakarta Selatan yang Hobi Tawuran akan Dimasukkan ke Pesantren Kilat

Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Mardiaz Kusin Dwihananto mengatakan, jajarannya akan mengedepankan upaya pre-emtif dan preventif

Tribunnews.com/Dennis
Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Mardiaz Kusin Dwihananto mengatakan, jajarannya akan mengedepankan upaya pre-emtif dan preventif dalam masalah tawuran. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dennis Destryawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Polres Metro Jakarta Selatan akan ikutkan pelajar nakal yang suka tawuran untuk pesantren kilat.

Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Mardiaz Kusin Dwihananto mengatakan, jajarannya akan mengedepankan upaya pre-emtif dan preventif dalam masalah tawuran.

"Pesantren kilat ini, juga bertujuan untuk menghindari penyebaran radikalisme di kalangan pelajar," ujar Mardiaz saat dikonfirmasi wartawan, Senin (25/12/2017).

Baca: Siang Ini Lalu Lintas di Jalan Katedral Lancar

Mardiaz mengatakan, program pesantren kilat khusus pelajar yang suka tawuran akan diadakan setiap bulan. Pihak kepolisian bekerja sama dengan masyarakat setempat, misal jemaah tabligh Jakarta Selatan.

"Jadi, anak-anak yang ditangkap karena masalah kenakalan remaja misalnya hendak melakukan tawuran, sebelum dikembalikan ke orang tua kita berikan pesantren kilat selama tiga hari terlebih dahulu," ujar Mardiaz.

Kegiatan mulai dilakukan pekan lalu, bekerja sama dengan 40 siswa yang tergabung dalam OSIS di 10 sekolah. Kegiatan ini tidak hanya untuk pelajar nakal, tetapi untuk pelajar SMA secara keseluruhan guna membangun karakter yang lebih mandiri, berakhlak dan berdisiplin.

"Dalam kegiatan tersebut diajarkan kepada para santri tentang adab sholat, adab wudhu, adab makan dan minum, adab bersilaturahmi dengan masyarakat, adab istinjak, adab tidur, adab puasa dan seluruh amal Nabi Muhamad SAW," ujar Mardiaz.

Para pelajar yang sering terlibat aksi tawuran nantinya mereka juga akan dibina dan diikut sertakan dalam kegiatan keagamaan ini agar kebiasaan mereka bisa disalurkan dalam kegiatan yang positif.

Mardiaz menerangkan, bahwa para santri juga dilatih untuk berdemo pada malam hari, demo berupa munajat kepada Allah SWT melalui sholat Tahajud untuk meminta keberkahan dan kemuliaan agar negara kita terlepas dari marabahaya.

"Demo malam tidak menggunakan gas air mata melainkan tetesan air mata sebagai pertanda taubatan nasuha atau penyesalan diri atas dosa-dosa selama ini,” ujar Mardiaz.

Penulis: Dennis Destryawan
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved