Kamis, 16 April 2026

Driver Ojek Online Nilai Aplikasi 'Tuyul' Akibat Perusahaan Ojol Terus Buka Lowongan

Heru menyatakan kalau bagi dirinya keberadaan aplikasi "tuyul" itu tidak adil bagi para driver yang bekerja secara murni dan jujur.

Editor: Fajar Anjungroso
Tribunnews.com/ Dennis Destryawan
Polisi meringkus komplotan order fiktif taksi daring. 12 pelaku meraup keuntungan Rp 600 juta selama melancarkan aksinya melakukan order fiktif atau biasa disebut tuyul. 

TRIBUNNEWS.COM, TANGERANG - Fenomena penggunaan "tuyul" atau aplikasi pembuat order fiktif oleh beberapa driver ojek maupun taksi online tentu meresahkan pengemudi ojek online lainnya.

Syafrial (53) salah satunya, pengemudi Go-Jek di sekitaran Pamulang, Tangerang Selatan itu mengakui kalau keberadaan aplikasi tuyul tersebut membuat dia dan teman-temannya sesama pengemudi ojek online resah.

"Menurut saya itu merugikan dan juga meresahkan buat orang lain. Sangat merugikan," ujar Syafrial saat ditemui Kompas.com di depan SMP Waskita, Pamulang, Tangsel, Jumat (2/2/2018).

Syafrial mengakui, banyak pula rekannya yang menggunakan aplikasi tersebut untuk meraup untung. Namun, dia mengatakan tak berminat menggunakan aplikasi tuyul itu dan memilih bekerja secara jujur.

"Banyak teman-teman yang pakai, tapi saya sih enggak. Saya jujur, nih handphone saya polos. Enggak ada aplikasi gitu-gitu, saya takut di-suspend atau diputus mitranya," imbuh dia.

Senada dengan Syafrial, Ayu (31) yang juga merupakan pengemudi Go-Jek merasa para driver ojek online yang menggunakan aplikasi tuyul tidak adil.

Baca: Apple Resmi Jual iPhone 7 Rekondisi, Murah dan Ada Garansi

Ayu menerangkan, sangat disayangkan jika ada pengemudi ojek onlineyang dengan susah payah berkeliling, tetapi penghasilannya jauh di bawah mereka yang menggunakan aplikasi "tuyul".

"Ya itu kasihan yang jujur, yang murni karena kan istilahnya sudah capek keliling, lama, dan sudah kerja keras. Intinya sangat merugikan lah," jelas Ayu.

Sementara itu, salah seorang pengemudi Grab Bike bernama Heru (30) menyampaikan kalau fenomena penggunaan aplikasi "tuyul" oleh beberapa pengemudi ojek online buah dari semakin sengitnya persaingan antar-driver.

"Kalau ditelaah lagi fenomena "tuyul" sangat merebak karena persaingan yang ketat saling merebut order karena pihak perusahaan ojol selalu buka terus lowongan buat jadi driver ojol, hampir tiap bulan. Jadi driver makin banyak makin sengitlah rebutan order, akhirnya merebaklah jalan pintas fenomena "tuyul"," jelas dia.

Kendati demikian, Heru menyatakan kalau bagi dirinya keberadaan aplikasi "tuyul" itu tidak adil bagi para driver yang bekerja secara murni dan jujur.

Berita ini sudah tayang di kompas.com berjudul Curhat Pengemudi Ojek Online soal Kecurangan Pakai "Tuyul"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved