Warga DKI: Sampai Kapan Kami Harus Mengungsi, Ini Parah 2 Kali Banjir dan Menenggelamkan Rumah

Sejumlah warga belum bisa pulang ke rumahnya karena tebalnya lumpur, salah satunya Nurhayati (24).

Editor: Hasanudin Aco
Alex Suban/Alex Suban
Kendaraan merayap melintasi Jalan Jatinegara Barat, Jakarta Timur, yang terendam banjir akibat luapan Sungai Ciliwung, Jumat (26/4/2019). Jalan Jatinegara Barat sempat ditutup dan kendaraan mobil dari arah Terminal Kampung Melayu dibelokkan ke Jalan Jatinegara Barat 1 karena banjir sempat meninggi. Warta Kota/Alex Suban 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD) DKI Jakarta mencatat titik banjir akibat luapan Sungai Ciliwung, Jumat (26/4/2019) subuh, sebanyak 32 titik.

Perlu upaya serius dari kepala daerah Jakarta dan Bogor untuk merevitalisasi Sungai Ciliwung agar warga tidak terus menerus menjadi korban setiap kali banjir menerjang.

Salah satu daerah yang terdampak luapan sungai Ciliwung, adalah Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Meski sudah surut, sejumlah warga belum bisa kembali ke rumahnya karena banjir masih menyisahkan lumpur yang tebal.

Baca: Pengamat: Pelebaran Sungai Kunci Atasi Banjir Jakarta

Ari santoso, Kepala Pleton Grup A Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Peyelamatan Kebakaran, Pasar Minggu , Jakarta Selatan, Sabtu (27/4/2019), mengatakan, setidaknya butuh waktu satu hingga dua minggu untuk penanggulangan pasca banjir terutama upaya membersihkan lumpur.

“RT RW cukup banyak yang terdampak seperti RT 017 RW 007, RT 005 RW 008, RT 001 RW 007, RT 16 RW 07, RT 11 RW 6, RT 12 RW 6, RT 12 RW 10. Beberapa warga sudah ada yang kembali. Namun, warga yang tinggal di bawah belum bisa kembali lumpur masih tinggi,” kata Ari.

RT 005 RW 008 merupakan salah satu wilayah terparah yang terdampak luapan banjir.

Nuryati (25), warga RT 005 RW 008, Pejaten Timur, Jakarta Selatan, memeluk anaknya Raditya (4) yang mulai mengantuk.
Nuryati (25), warga RT 005 RW 008, Pejaten Timur, Jakarta Selatan, memeluk anaknya Raditya (4) yang mulai mengantuk. (KOMPAS/AGUIDO ADRI)

Sejumlah warga belum bisa pulang ke rumahnya karena tebalnya lumpur, salah satunya Nurhayati (24).

Mata Raditya (4), mulai sayu karena kantuk. Sang ibu, Nurhati lalu memeluk erat sembari meninabobokan anak pertamanya.

Nurhayati tidak sendiri, ibu lainnya Rani (30), juga belum bisa kembali ke rumahnya karena lumpur belum selesai dibersihkan.

Kakinya penuh bekas lumpur setinggi betis. Untuk satu malam lagi, ia bersama tiga anaknya Alya (5), Cesya (3), dan Arka (1), harus mengungsi sementara.

“Tadi baru ngecek rumah. Udah surut sih, tapi lumpurnya masih banyak. Tapi dinding bagian tengah dekat kamar mandi hancur’” kata Rani.

Aksi relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Bidara Cina atasi banjir kiriman di Bantaran Ciliwung, Jumat (26/4/2019).
Aksi relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Bidara Cina atasi banjir kiriman di Bantaran Ciliwung, Jumat (26/4/2019). (ACT)

Bagi masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung, banjir bukan peristiwa yang baru pertama kali terjadi, sejumlah warga ada yang menganggap biasa saja.

Namun, bagi Nurhayati dan Rani yang memiliki anak kecil peristiwa banjir sangat berat untuk mereka.

“Mau sampai kapan seperti ini, setiap banjir mengungsi. Tidak ada air bersih, listrik, kasihan anak-anak. Kami harap ada tindakan serius dari pemerintah. Ini parah dua kali diterpa banjir dan menenggelamkan rumah,” kata Nurhayati.

Halaman
12
Sumber: KOMPAS
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved