BNPB: Sistem Peringatan Dini Memang Belum Ada untuk Hujan Lokal yang Bersifat Ekstrem

Sistem peringatan dini untuk hujan lokal yang bersifat ekstrem saat ini belum tersedia di Indonesia. Sistem itu baru terpasang pada jalur sungai utama

BNPB: Sistem Peringatan Dini Memang Belum Ada untuk Hujan Lokal yang Bersifat Ekstrem
TRIBUNNEWS/DANANG TRIATMOJO
Kepala Pusat Pengendalian Operasi BNPB Bambang Surya. 

Laporan wartawan tribunnews.com, Danang Triatmojo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sistem peringatan dini untuk hujan lokal yang bersifat ekstrem saat ini belum tersedia di Indonesia. Sistem serupa baru terpasang pada jalur-jalur sungai utama.

"Ketika kita mendapatkan curah hujan yang tinggi yang sifatnya lokal di perkotaan itu memang belum tersedia early warning system," ujar Kepala Pusat Pengendalian Operasi BNPB Bambang Surya dalam diskusi Polemik di kawasan Bidara Cina, Jakarta Timur, Sabtu (4/1/2020).

Bambang mengatakan, meski sudah terpasang pada lokasi tertentu seperti di bendungan Katulampa, sistem peringatan dini itu mesti harus dievaluasi terkait fungsinya. Sebab bukan tidak mungkin ditemui kendala yang mengganggu sistem ini bekerja.

"Sistemnya sebetulnya sudah ada tapi kita evaluasi lagi apakah masih berfungsi normal saat ini. Kemaren terjadi kendala nya seperti apa karena memang early warning system yang tersedia saat ini, itu berada pada jalur-jalur dan sungai-sungai utama," ucap dia.

Baca: Ternyata Banjir 2020 Pernah Melanda Monas pada Tahun 1897

Idealnya, informasi yang disampaikan sistem peringatan dini terkirim ke ponsel-ponsel masyarakat. Sehingga mereka dengan mudah mengetahui apa dampak bencana yang ada di wilayahnya untuk kemudian mengambil langkah pencegahan.

Baca: BNPB Evaluasi Penanganan Tanggap Darurat Bencana, Layanan Call Center Ditambah

Informasi itu bisa dikirim lewat SMS ataupun media sosial resmi pemerintah.

"Early warning system itu sebetulnya harus sampai ke masyarakat satu persatu tapinya baik menggunakan handphone atau sosial media," kata dia.

Baca: 8 Orang Jadi Korban Meninggal Dunia Banjir Bandang Lebak Banten, 1 Anak Masih Proses Pencarian

Mengingat, banjir besar yang melanda Jabodetabek beberapa hari kemarin berakibat pada 53 orang meninggal dunia.

Pengungsi tercatat sempat mencapai 173.064 jiwa secara keseluruhan. Mereka tersebar di 277 titik pengungsian.

"Jumlah pengungsi 173.064 jiwa kemudian ini tersebar di 277 titik pengungsian dan jumlah korban yang tercatat saat ini 53 orang, namun dari 53 orang ini ada 5 (korban) yang masih dalam proses konfirmasi untuk data-data terkait umur dan alamat," pungkas Bambang.

Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved