Sabtu, 11 April 2026

HUT Kemerdekaan RI

Sarjuki Yakin Pandemi Covid-19 Tak Halangi Rejekinya Berjualan Bendera

Gerobak dagang Sarjuki terlihat nampak usang, terparkir tepat di hadapannya. Ada bermacam-macam atribut yang biasa digunakan segenap anak bangsa

Editor: Rachmat Hidayat
TRIBUNNEWS.COM/LUCIUS GENIK
Sarjuki penjual bendera musiman 

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Sarjuki (55), pedagang atribut bendera-merah putih, duduk di atas trotoar Jalan R.A Fadillah Cijantung, Jakarta Timur, Jumat (7/8) sore. Sarjuki berdagang atribut bendera merah-putih menggunakan gerobak.

Gerobak dagang Sarjuki terlihat nampak usang. Ada bermacam-macam atribut yang biasa digunakan saat merayakan Hari Ulang Tahun ke-75 Republik Indonesia.

Mulai dari tiang bendera, bendera merah-putih ukuran 90, 120, dan paling besar berukuran 150 atau 1,5 meter. Bendera merah-putih dengan logo Pancasila, dan bermacam-macam atribut lainnya.

Sarjuki mengaku sudah beberapa hari lalu berdagang di Jakarta. Ia jauh-jauh dari Indramayu datang ke Jakarta untuk menjajakan atribut bendera merah-putih. 17 Agustus,menjadi momen baginya mendapatkan rejeki, berdagang atribut bendera.

"Tiap tahun itu saya dagang bendera, sudah tiga tahun. Saya sampai di Jakarta hari Rabu minggu lalu, langsung bikin gerobak untuk dagang," ucap Sarjuki kepada Tribun.

Setiap berdagang atribut bendera merah-putih, Sarjuki tinggal dengan seorang kakak yang berdomisili di Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Sehari-hari ia berkeliling, menjajakan atribut bendera merah-putih kepada masyarakat yang akan merayakan Hari Ulang Tahun ke-75 Republik Indonesia.

Lingkup dagang Sarjuki yakni kawasan Kampung Rambutan, Kampung Gedong, dan terakhir kawasan Jalan R.A Fadillah Cijantung. Sarjuki menjajakan dagangannya mulai di tiga kawasan ini mulai dari pukul 08:00 WIB sampai sore, tak menentu pulangnya.

Pangsa pasar atribut bendera merah-putih, kata Sarjuki, sedang sepi. Per hari keuntungan yang didapatnya tidak menentu."Keuntungan yang saya dapat per hari tidak tentu. Namanya juga dagang, ada kalanya ramai ada kalanya sepi," ucap Sarjuki.

"Untuk makan sih dapat, kalau untuk kebutuhan di kampung engga tahu, soalnya udah dagang beberapa hari ini belum begitu ramai. Mungkin jelang 17-an, baru agak ramai," sambung dia.

Harga bendera yang dijual Sarjuki beragam. Bendera merah-putih ukuran 90 dijual Rp 25 ribu, ukuran 120 dijual Rp 60 ribu, kalau ukuran 150 atau 1,5 meter dijual Rp 70 ribu dan tiang benderanya djual Rp 15 ribu. Sarjuki mengaku tak mengingat betul berapa keuntungan yang sudah diperoleh.

"Saya kurang ingat berapa bendera yang sudah saya jual, tidak saya hitung sih. Kadang-kadang dua atau tiga pasang (bendera + tiang) itu dapat. Kalau lagi ramai bisa lima pasang. Tidak begitu gede (untungnya)," tutur Sarjuki.

Pandemi virus Corona atau Covid-19, kata Sadjuki, ia yakin tidak berdampak pada dagangannya. Tidak ada perubahan signifikan antara jualan bendera di tahun ini dan tahun lalu.

"Harapannya semoga bangsa Indonesia bisa segera bebas dari pandemi Covid-19, soalnya kondisi ini membuat kita semua repot. Semoga pemerintah juga bisa membebaskan kita semua dari Covid-19," ucap Sarjuki.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved