Breaking News:

Per September, Rata-rata Progres Konstruksi LRT Jabodebek Capai 77 Persen

Per September 2020, progres detail setiap lintas pelayanan antara lain lintas pelayanan 1 Cawang - Cibubur telah selesai 91 persen.

Tribunnews/Jeprima
Pekerja menyelesaikan pembangunan Stasiun LRT Jabodebek di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (12/8/2020). Pembangunan Light Rail Transit (LRT) Cawang-Cibubur sudah mencapai 87,34 persen. Seluruh lintasan ditarget rampung semua pembangunannya pada 2021. Tribunnews/Jeprima 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Adhi Karya (Persero) Tbk, kontraktor pelaksana pembangunan infrastruktur transportasi kereta ringan atau light rail transit (LRT) Jabodebek menyatakan, progres konstruksi proyek sudah mencapai 77 persen.

"Indonesia patut berbangga karena sebentar lagi akan hadir kereta api ringan yang menghubungkan Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi atau LRT Jabodebek sepanjang 44 km," kata Sekretaris Perusahaan Adhi Karya Parwanto Noegroho dalam keterangan tertulis, Rabu (14/10/2020).

Per September 2020, progres detail setiap lintas pelayanan antara lain lintas pelayanan 1 Cawang - Cibubur telah selesai 91 persen, lintas pelayanan 2 Cawang - Kuningan - Dukuh Atas 93 persen, dan lintas pelayanan 3 Cawang - Bekasi Timur 87 persen.

Parwanto menambahkan Adhi Karya juga membuat inovasi karya anak negeri dalam proyek infrastruktur LRT Jabodebek berupa jalur kereta dengan bentang lengkung terpanjang dan pertama di Indonesia serta penggunaan struktur U-Shaped Girder terpanjang dan pertama di Indonesia.

Baca juga: Penumpang LRT Jakarta Turun Signifikan di Masa PSBB, dari 82 Ribu Jadi Hanya 6 Ribu

"Bentang lengkung terpanjang ini terletak di Kuningan, Jakarta Selatan dan telah tercatat di Museum Rekor Indonesia pada November 2019," ucapnya.

Menurutnya, U-shaped girder atau gelagar berbentuk huruf U merupakan struktur konstruksi yang diadopsi dari Perancis.

Baca juga: Menristek: Kereta Api dan LRT di Indonesia Bakal Dikembangkan Tanpa Pengemudi

Teknologi ini dipilih karena desainnya ramping, sesuai dengan ketersedian ruang pada kota-kota yang padat seperti di Jakarta.

Selain ramping desain ini memiliki berbagai keunggulan antara lain tahan gempa dan mampu meredam kebisingan. Struktur ini juga menyediakan ruang untuk berjalan atau walkaway.

"LRT Jabodebek menggunakan teknologi third rail untuk mendistribusikan pasokan listriknya sehingga tidak ada kabel melintang di atas jalur yang akan menambah estetika dan ramah dengan arsitektur kota Jakarta," imbuh Parwanto.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved