Breaking News:

Jaga Persatuan, Pemuda Pancasila Dorong Rekonsiliasi Nasional

Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila mendorong perlunya rekonsiliasi nasional antar sesama anak bangsa.

MPR RI
Penyerahan Kartu Anggota Diberikan saat Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin Menghadiri Rangkaian Musyawarah Besar (Mubes) Pemuda Pancasila X pada 26-28 Oktober 2019. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mencermati situasi politik Tanah Air akhir-akhir ini, Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila mendorong perlunya rekonsiliasi nasional antar sesama anak bangsa.

Hal ini penting dilakukan karena tantangan bangsa yang makin sulit apalagi di tengah situasi sulit karena pandemi Covid-19.

"Kalau kita cermati situasi politik nasional memang sedang hangat, cenderung memanas apalagi tampak berbagai gerakan yang cenderung memecah belah, maka itu kami dorong agar kita semua menahan diri, jangan mudah terprovokasi dan jika ada soal yang merintangi ya lakukan komunikasi supaya rekonsiliasi itu terjadi," kata Wakil Sekjen Bidang Pemberdayaan dan Pembinaan Indonesia Timur MPN Pemuda Pancasila Jack Paskalis kepada wartawan, Jumat (20/11/2020).

Dijelaskan Jack, berbagai provokasi yang dilakukan oleh elemen masyarakat melalui media sosial akhir akhir ini sangat disayangkan dan meresahkan.

Baca juga: Dihadapan MPW Pemuda Pancasila di Kaltim, Bamsoet Ajak Sebarkan Semangat Kebangsaan dan Nasionalisme

"Kalau kita terpecah belah ya kita semua ini rugi. Dan bangsa lain pasti senang melihat kalau bangsa kita selalu ribut dan gaduh karena itu akan mengganggu pembangunan nasional," ucapnya.

Ia menambahkan, dalam konteks negara Pancasila maka tidak boleh ada hegemoni kelompok tertentu baik suku maupun agama atas elemen bangsa yang lain.

"Jangan sampai ada anggapan bahwa kelompok tertentu merasa memiliki saham lebih besar atas negara ini sehingga merasa bebas melakukan apa saja. Ini tidak boleh kita biarkan," ujarnya.

Pemuda Pancasila, kata Jack, mendorong agar agenda persatuan harus dikedepankan sehingga bangsa ini terus melaju kencang.

"Kalau masih ada ganjelan ya harus dibereskan, harus ada komunikasi, harus ada rekonsiliasi. Jangan malah memendam rasa benci dan dendam yang justru merugikan kita semua sebagai bangsa," pungkasnya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved