Breaking News:

Cindar Hary Prabowo: Tanpa Normalisasi Sungai, Masalah Banjir tak Mungkin Bisa Diatasi

Cindar Hary Prabowo mengatakan bahw, tanpa normalisasi sungai, masalah banjir tak mungkin bisa diatasi.

dok pribadi
Cindar Hary Prabowo (no 2 dari kanan) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Iluni FTUI, Cindar Hary Prabowo mengatakan bahw, tanpa normalisasi sungai, masalah banjir tak mungkin bisa diatasi.

Program resapan air di permukaan tanah hanyalah penunjang untuk mengurangi volume air hujan yang menggenang dipermukaan tanah.

Namun limpasan air hujan yang tidak terserap akhirnya ke laut melalui 13 sungai yang melintas Jakarta.

Cindar Hary Prabowo menjelaskan, hampir semua halaman rumah di Jakarta sudah tertutup dengan semen. Selain itu, puluhan ribu rumah tidak punya halaman untuk membuat sumur resapan.

"Padahal, banjir bukan hanya karena curah hujan ekstrim di Jakara tetapi juga luapan air 12 sungai sejak di hulu," selorohnya.

Bahkan di sepadan sungai pun diakuinya telah berdiri ribuan rumah. Karena itu, lulusan Teknik Sipil UI ini menyarankan agar Pemprov DKI untuk segera melakukan normalisasi sungai, selain tetap menjalankan program meresapkan sebagian air di dalam tanah.

"Tak ada solusi lain untuk mengurangi Banjir Jakarta, Pemprov DKI harus segera melakukan normalisasi sungai. Tidak perlu gengsi ini adalah program gubernur sebelumnya. Tapi yang harus dijalankan oleh Pemprov DKI adalah mengurangi banjir yang rutin terjadi dan belum optimal penanggulangannya," ungkap Cindar Hary Prabowo.

Cindar menduga ada kekhawatiran Gubernur DKI dianggap melanggar janji kampane jika terpaksa menggusur warga yang tinggal di bantaran sungai.

Namun, hal ini bisa diatasi jika pemprov DKI menyediakan terlebih dulu rumah tinggal yang lebih baik bagi warga yang akan digusur.

Menurutnya, Pemprov bisa membangun apartemen atau rusun di lahan kosong milik pemprov atau swasta di dalam atau di sekitar Jakarta sebagai pengganti rumah warga yang tergusur.

Dikatakan Cindar, warga akan merasa lebih nyaman jika bisa tetap tinggal tak jauh dari rumah mereka dahulu karena berbagai sebab, diantaranya soal tempat kerja dan usaha. Namun, dengan banyak moda transportasi massal, masalah ini bisa diatasi.

"Dengan ada trans Jakarta, Komuter dan transportasi massal lainnya, jarak 10-15 km, warga akan cepat sampai ke lokasi kerja atau usaha mereka. Apalagi jika rusun atau apartemen dibangun di Jakarta. Ini hanya bagaimana mencari win-win solution, misalnya luas rumah warga di bantaran sungai diganti dengan 2 kali luas rusun yang akan mereka miliki nanti, dan warga tidak kebanjiran lagi," jelasnya.

Editor: Toni Bramantoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved