Perdaya 70 Ribu Korban, Investasi Bodong EDC Cash Dilaporkan ke Bareskrim Polri

Belasan korban investasi bodong E-Dinar Coin (EDC) Cash melaporkan dugaan tindakan penipuan dan penggelapan ke Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (14/4/20

Tribunnews.com, Igman Ibrahim
Belasan korban investasi bodong E-Dinar Coin (EDC) Cash melaporkan dugaan tindakan penipuan dan penggelapan ke Bareskrim Polri 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Belasan korban investasi bodong E-Dinar Coin (EDC) Cash melaporkan dugaan tindakan penipuan dan penggelapan ke Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (14/4/2021).

Laporan tersebut diwakilkan kuasa hukum korban investasi bodong EDC Cash, Abdul Malik ke Bareskrim Polri.

Adapun terlapor dalam kasus ini seseorang berinisial A.

"12 klien saya yang melaporkan dugaan tindakan pidana penipuan penggelapan diduga dilakukan oleh terlapor A. Jadi klien saya ini member dari EDC Cash yang sudah dinyatakan oleh OJK investasi bodong," kata Malik.

Ia menuturkan EDC Cash telah memakan korban yang cukup besar tersebar di seluruh Indonesia. Menurutnya, kliennya juga sempat mendatangi rumah terlapor hingga manajemen namun tidak menemukan titik temu.

"Jadi klien saya mencoba berkomunikasi dengan pihak manajemen tapi tidak pernah ketemu jalan keluar hingga akhirnya  mendapatkan ada beberapa ancaman juga untuk tidak melapor. Jadi saya datang ke sini untuk melaporkan dan meminta perlindungan hukum," ungkap dia.

Malik kemudian menjelaskan modus penipuan EDC Cash menggunakan skema multi level marketing (MLM). Artinya, setiap nasabah yang direkrut diwajibkan untuk membawa nasabah baru untuk diajak.

"Kalau ingat dulu ada Pandawa investasi, gak jauh beda. MLM ujung-ujungnya. Jadi setiap 1 orang itu, ada 1 leader yang downline ke bawahnya itu ada 200 orang, 100 orang," jelas dia.

Baca juga: Investasi Bodong Makin Marak, Masyarakat Diminta Waspada

Ia mengatakan ED Cash diduga melakukan ajakan berinvestasi menggunakan koin. Setiap member yang ingin bergabung nantinya harus membeli koin seharga Rp 30 ribu.

"Mereka mengkolek uang untuk membeli koin. Yang koinnya itu ditukarkan sesama mitranya. Belinya 1 koin Rp 30 ribu, tadinya Rp 20 ribu, sekarang jual tetep Rp 15 ribu. Jadi mereka harus membayar setiap bulannya Rp 300 ribu. Membernya ada 70 ribu. Bayangkan saja," jelas dia.

Dijelaskan Malik, para member dijanjikan dapat keuntungan 0,5 persen dari total investasinya yang dibelikan dalam bentuk koin tersebut. Awalnya, keuntungan itu dapat diberikan oleh pihak EDC Cash.

Namun sejak 6 bulan lalu, mereka tidak lagi mencairkan dana investasi yang disetorkan oleh para membernya. Akibat kejadian ini, total kerugian yang dialami kliennya mencapai Rp 62 miliar.

"Jadi total kerugian dari klien saya kurang lebih Rp 62 miliar yang sudah tidak bisa dicairkan semenjak 6 bulan lalu," tukas dia.

Dalam kasus ini, pelapor menduga EDC Cash melanggar pasal 378 tentang penipuan dan penggelapan. Selain itu, mereka menjerat pelaku melanggar pasal pencucian uang.
 

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved