Breaking News:

Belajar dari Kesederhanaan Ismamat, Ojek Sepeda yang Bertahan di Tengah Gempuran Transportasi Online

Selasa (27/7/2021) siang, Ismamat alias Mamat mengambil tempat terbaik di bawah pohon, sambil meresapi sejuknya udara yang berhembus.

TRIBUNJAKARTA.COM/GERALD LEONARDO AGUSTINO
Ismamat (68), tukang ojek sepeda ontel di Jalan Enggano, Tanjung Priok, Jakarta Utara. 

Mereka belum tahu, tubuh Mamat sempat terasah saat dirinya belasan tahun mencari nafkah sebagai kuli panggul di pelabuhan.

"Kadang ada aja yang nanyain, 'masih kuat?' Saya jawab, ‘masih om, kalau nggak kuat udah pulang kampung," katanya seraya berkelakar.

Mamat dulu datang dari kampungnya di Bogor untuk menjadi kuli panggul di Tanjung Priok.

Setidaknya 12 tahun waktu yang dibutuhkan Mamat untuk menjadi kuli panggul, sebelum akhirnya ia sadar bahwa dirinya sudah terlalu tua untuk pekerjaan tersebut.

"Dulu jadi kuli di pelabuhan selama 12 tahun tapi abis itu udah nggak lagi, udah tua, makanya jadi tukang ojek sepeda," kata Mamat.

Akhirnya, dengan sisa-sisa uang yang ia punya, Mamat membeli sepeda ontel bekas dan bertolak menjadi tukang ojek sejak tahun 2015.

Makan Nasi Pakai Kecap

Hidup Mamat memang pas-pasan, tapi semangatnya bertahan di tengah kondisi serba sulit masih berlimpah.

Mamat bersyukur masih bisa menghidupi istri dan anaknya dengan uang yang ia tabung dari pendapatannya sehari-hari sebagai tukang ojek sepeda ontel.

Namun, kenyataan yang dijalani Mamat sempat cukup pahit.

Mamat mengaku pernah makan nasi hanya pakai kecap karena uangnya sudah habis untuk bayar kontrakan.

Apalagi ketika saat ini istrinya sedang tak memiliki pekerjaan setelah sebelumnya sebagai asisten rumah tangga.

"Makan juga begitu, kadang makan nasi sama kecap. Kan yang penting bisa bayar kontrakan, cukup-cukupin aja lah," ucapnya.

Dalam menghidupi hari-hari tuanya, Mamat tak pernah letih mengayuh sepeda ontelnya demi mengantar orang-orang ke tempat yang dituju.

Peluh dan rasa lelah terus dirasakan Mamat sepanjang jalan, sambil berharap ada penumpang-penumpang lain yang menggunakan jasanya.

Selama pohon rindang di depan Masjid Al-Husan belum tumbang, selama itu pula Mamat akan terus berjuang.

Selama masih ada nasi dan kecap, selama itu juga Mamat akan terus berharap.

Artikel ini tayang di TribunJakarta.com dengan judul Pohon Rindang & Nasi Kecap: Mamat Si Tukang Ojek Sepeda Ontel Bertahan di Tengah Perkembangan Zaman

Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Wahyu Septiana

Editor: Choirul Arifin
Sumber: TribunJakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved