Ledakan di Jakarta Utara
ABH Pelaku Ledakan Bom di SMAN 72 Jakarta Mengaku Sakit Hati dan Dendam Kerap Dikucilkan
Sakit hati dikucilkan, pelajar nekat meledakkan bom di SMAN 72 saat salat Jumat. 96 korban luka, trauma masih membekas hingga kini.
Ringkasan Berita:
- Sakit hati dikucilkan, dendam pelajar berujung bom rakitan
- Ledakan saat salat Jumat bikin 96 siswa-guru luka
- Korban trauma, keluarga berharap kasus diusut tuntas segera
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tiga bulan setelah peristiwa ledakan bom di SMAN 72 Jakarta, anak berhadapan dengan hukum (ABH) pelaku akhirnya buka suara soal motif. Ia mengaku nekat melakukan aksi tersebut karena sakit hati dan dendam akibat kerap dikucilkan oleh teman-temannya di sekolah.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menyampaikan keterangan resmi terkait pengakuan pelaku.
“Berdasarkan keterangan ABH motif yang disampaikan adalah rasa sakit hati terhadap lingkungan sekolah khususnya perlakuan dari sejumlah teman yang dinilai sering mengucilkan,” kata Budi, dalam keterangan, Kamis (5/2/2026).
Rupanya ABH sudah mendapatkan perlakuan perundungan sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ejekan berlanjut hingga tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), membuatnya merasa terisolasi.
Perasaan itu terus dipendam hingga akhirnya memuncak.
ABH acap kali menjadi bahan ejekan temannya.
Ia bahkan mendapat panggilan yang dinilai merendahkan karena lebih sering bergaul dengan teman perempuan.
Entah apa olokan temannya tersebut, yang jelas ABH tidak terima hingga terjadilah peristiwa ledakan di masjid sekolah hari itu.
Baca juga: Densus 88: Siswa SMP Lempar Molotov di Kalbar Satu Komunitas dengan Siswa SMA 72 Jakarta
Ledakan Saat Salat Jumat
Insiden bom rakitan terjadi pada Jumat, 7 November 2025 sekitar pukul 12.15 WIB di masjid sekolah SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Ledakan terdengar saat khotbah salat Jumat berlangsung, memicu kepanikan massal.
Sebanyak 96 orang terdiri dari siswa, guru, dan warga sekitar mengalami luka-luka.
Dari jumlah itu, 54 orang langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat, sementara lainnya ditangani di unit kesehatan sekolah.
Tim Gegana Brimob dan Puslabfor Polri menemukan tujuh bom rakitan, empat di antaranya meledak, tiga lainnya berhasil diamankan dalam kondisi aktif.
Kondisi Pelaku dan Proses Hukum
ABH sempat menjalani operasi dekompresi kepala dan kini dinyatakan pulih.
Ia ditempatkan di rumah aman sambil menunggu proses hukum.