Groundbreaking Pasar Gardu Asem, Fahira Soroti Peran Strategis Pasar Tradisional
Keberadaan pasar tradisional tidak sekadar sebagai pusat transaksi ekonomi, tetapi juga memiliki peran penting sebagai ruang sosial
Ringkasan Berita:
- Fahira Idris mendukung revitalisasi pasar tradisional yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta sebagai bagian transformasi menuju kota global.
- Pasar dinilai memiliki peran strategis bagi ekonomi UMKM sekaligus ruang sosial-budaya masyarakat.
- Diperlukan pembenahan menyeluruh, mulai dari tata kelola, digitalisasi, hingga integrasi transportasi untuk meningkatkan daya saing pasar.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota DPD RI asal DKI Jakarta, Fahira Idris, menyatakan dukungannya terhadap langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang terus mendorong revitalisasi dan modernisasi pasar tradisional.
Dukungan ini disampaikan menyusul dimulainya pembangunan (groundbreaking) Pasar Gardu Asem di Kemayoran, Jakarta Pusat, serta Pasar Kramat Jaya di Cilincing, Jakarta Utara.
Peresmian awal pembangunan yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tersebut menjadi bagian dari program besar penataan 153 pasar tradisional agar lebih modern, tertata, dan kompetitif.
Fahira menilai, keberadaan pasar tradisional tidak sekadar sebagai pusat transaksi ekonomi, tetapi juga memiliki peran penting sebagai ruang sosial dan budaya masyarakat. Karena itu, upaya revitalisasi dinilai sebagai langkah strategis dalam mendorong transformasi Jakarta menuju kota global.
“Pasar tradisional adalah denyut kehidupan warga. Revitalisasi ini penting sebagai bagian dari upaya menjadikan Jakarta kota global yang tetap berakar pada kekuatan sosial dan budaya,” ujar Fahira di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/4).
Baca juga: Anggota DPD RI Fahira Idris Sampaikan Lima Langkah Strategis Jaga Jakarta saat Ditinggal Mudik
Ia menegaskan, pasar rakyat memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah, khususnya sebagai ekosistem bagi ratusan ribu pelaku UMKM. Selain itu, pasar juga menjadi ruang interaksi sosial yang tidak tergantikan oleh pusat perbelanjaan modern.
Meski demikian, Fahira mengingatkan masih adanya sejumlah tantangan yang harus dibenahi agar program revitalisasi benar-benar berdampak optimal. Tantangan tersebut mencakup kondisi fisik pasar, kebersihan, tata kelola yang belum optimal, hingga perubahan perilaku konsumen yang semakin mengarah ke belanja digital.
Selain itu, persoalan integrasi dengan transportasi publik, keterbatasan digitalisasi, serta belum maksimalnya pemberdayaan pedagang juga menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan bersama.
Menurutnya, jika dikelola secara tepat, pasar tradisional justru dapat menjadi elemen penting dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang inklusif dan berdaya saing.
Ia pun menyoroti bahwa di berbagai kota dunia, pasar tradisional justru menjadi salah satu daya tarik utama yang memperkuat identitas dan magnet wisata kota.
Untuk itu, Fahira mengusulkan lima strategi utama. Pertama, revitalisasi tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga perbaikan tata kelola dan profesionalisme pengelola. Kedua, peningkatan kapasitas dan kesejahteraan pedagang melalui pelatihan, akses pembiayaan, dan perlindungan sosial.
Ketiga, percepatan digitalisasi pasar, termasuk transaksi non-tunai dan pemasaran berbasis digital. Keempat, pengembangan pasar sebagai ruang terpadu yang menggabungkan fungsi ekonomi, sosial, budaya, hingga wisata. Kelima, penguatan integrasi dengan transportasi publik serta penataan kawasan sekitar agar lebih nyaman dan mudah diakses.
“Pasar adalah wajah ekonomi rakyat. Jika pasar kita kuat dan modern, maka fondasi ekonomi Jakarta juga akan semakin kokoh,” tegasnya.
Sebagai informasi, groundbreaking revitalisasi Pasar Gardu Asem dan Pasar Kramat Jaya dilakukan di Pasar Gardu Asem, Kemayoran, pada Senin (6/4), sebagai bagian dari komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam memodernisasi 153 pasar di bawah pengelolaan Perumda Pasar Jaya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/fahira-idris-bicara-kepada-1.jpg)