Jumat, 1 Mei 2026

Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Kecelakaan Taksi Listrik Tertemper KRL di Bekasi Diduga Faktor Human Error

Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Komarudin mengatakan dari hasil pemeriksaan awal ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan terjadinya laka

Tayang:
Penulis: Reynas Abdila
Tribunnews.com/Reynas Abdila
KECELAKAAN KERETA - Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Komarudin mengungkap dari hasil pemeriksaan awal ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan terjadinya laka taksi listrik dengan KRL di antaranya human error. Hal ini disampaikan di Gedung TMC Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (30/4/2026).  
Ringkasan Berita:
  • Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya sampai saat ini tengah melakukan pendalaman terkait kecelakaan taksi listrik dengan kereta rel listrik di perlintasan sebidang Ampera Bekasi
  • Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Komarudin mengatakan dari hasil pemeriksaan awal ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan terjadinya laka
  • Pihak kepolisian hanya fokus pada kasus laka di perlintasan sebidang

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya sampai saat ini tengah melakukan pendalaman terkait kecelakaan taksi listrik dengan kereta rel listrik di perlintasan sebidang Ampera Bekasi.

Sopir taksi listrik inisial RRP sudah menjalani pemeriksaan.

Baca juga: Korlantas Polri Hanya Analisis Kecelakaan Taksi Listrik Vs KRL

Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Komarudin mengatakan dari hasil pemeriksaan awal ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan terjadinya laka.

"Ya bisa jadi human error, bisa jadi faktor jalan, bisa jadi faktor kendaraan. Ini masih dalam kajian ataupun penelitian dari tim TAA (Traffic Accident Analysis) dari Korlantas," ucapnya di Gedung TMC Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (30/4/2026).

Baca juga: Polisi Sebut Taksi Listrik Mengalami Korsleting Elektrik Sebelum Ditabrak KRL di Bekasi

Untuk kejadian tersebut ditangani tim TAA (Traffic Accident Analysis).

Penyebab kecelakaan membutuhkan waktu untuk dikaji secara mendalam.

"Kita masih melakukan pendalaman, kajian unsur kelalaian yang sampai dengan menjadi penyebab dari kecelakaan itu," jelas Kombes Komarudin.

Pihak kepolisian hanya fokus pada kasus laka di perlintasan sebidang.

Sedangkan kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek menjadi kewenangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Kombes Komarudin menerangkan terkait kecelakaan taksi listrik dengan KRL tidak bisa tunjuk hidung siapa yang disalahkan.

Sebab TKP kecelakaan di perlintasan sebidang sehingga perlu dilihat apakah perlintasan tersebut sudah memenuhi aspek keamanan.

"Ini tempat kejadian perkaranya berada di lintasan sebidang ya ada ketentuan-ketentuan di sana terkait dengan masalah palang perlintasan, kondisi jalan seperti apa, itu yang nanti masih akan kita kaji. Nanti hasil TAA nanti yang akan melihat itu semua," tukasnya.

Polisi memastikan kendaraan taksi listrik sudah diperiksa terkait kalaikannya.

Termasuk memeriksa urine dari sopir tersebut.

Sebelumnya, Kasi Pullahjianta Subdit Laka Ditgakkum Korlantas Polri, Kompol Sandhi Wiedyanoe menyebut Traffic Accident Analysis (TAA) dilakukan guna memastikan apakah ada unsur kelalaian sopir taksi listrik.

Menurutnya, hal lain ialah terkait kewajiban stakeholder terkait dalam menyediakan palang pintu kereta api sesuai aturan UU Perkeretaapian.

"Korlantas tidak menyidik Laka Lantas yang melakukan penyidikan adalah Polres Metro Bekasi Kota," tutur Kompol Sandhi kepada wartawan Kamis (30/4/2026).

Dalam melakukan analisis Korlantas Polri menggunakan metode Traffic Accident Analysis (TAA) dengan cara scanning lingkungan di TKP, scanning BB taksi, serta scanning kereta api yang bertujuan untuk mengilustrasikan kejadian Laka pada saat sebelum, ketika, serta pasca kecelakaan

Hal ini bertujuan untuk membuat terang suatu perkara pidana dan menentukan strategi penyidikan lebih lanjut.

Sandhi menyebut metode ini menggunakan pendekatan berbasis teknologi yang memungkinkan penyidik melihat peristiwa secara menyeluruh.

Teknologi yang digunakan dalam TAA juga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu penyidik dalam merekonstruksi kejadian.

“Jadi kami dari Korlantas menurunkan tim TAA atau Traffic Accident Analysis adalah sebuah metode penyidikan berbasis teknologi yang digunakan oleh Polri dalam rangka melihat secara empat dimensi terkait dengan kejadian sebelum, pada saat, dan setelah kecelakaan itu terjadi,” tuturnya.

“Jadi ilustrasi berbasis Artificial Intelligence atau AI yang kami gunakan untuk memudahkan penyidik laka lantas Polri dalam rangka membuat sebuah perkara kejahatan kecelakaan lalu lintas semakin terang benderang, semakin jelas, sehingga mampu memberikan strategi yang cukup tepat untuk disajikan kepada Criminal Justice System, untuk disajikan kepada jaksa penuntut maupun kepada hakim,” sambungnya.

Dari sisi teknis, kata dia, terdapat dua jenis teknologi utama yang digunakan dalam proses analisis tersebut.

“Secara teknis TAA ini kami ada dua teknologi yang kami gunakan. Yang pertama adalah teknologi statis dengan kamera LiDAR serta kamera 360 derajat di mana mampu mendeteksi environment ataupun lingkungan secara menyeluruh, serta teknologi drone, teknologi portable yang mampu melihat melalui pola helicopter view,” jelasnya.

“Jadi melihat dari secara menyeluruh terkait dengan lingkungan sekitar TKP, kemudian jejak-jejak kecelakaan, bahkan barang bukti akibat dari proses kejadian kecelakaan,” tukasnya.

Baca juga: Profil Green SM, Taksi Listrik Vietnam Disorot usai Kecelakaan Kereta di Bekasi, Beri Klarifikasi

16 Korban Tewas

Untuk informasi, kecelakaan terjadi antara Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur terjadi pada Senin (27/4/2026) malam.

Polda Metro Jaya menyampaikan korban meninggal dunia atas insiden kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur bertambah.

Hal ini disampaikan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan Rabu (29/4/2026).

"Korban meninggal dunia bertambah satu orang sehingga total menjadi 16 orang, kami berharap tidak ada lagi penambahan korban,” ungkapnya.

Korban meninggal dunia diketahui sempat dirawat di ruang ICU RSUD Bekasi.

Pihak kepolisian menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada seluruh korban.

"Ini menjadi keprihatinan kita bersama saat ini penyidik masih mendalami rangkaian kejadian secara komprehensif,” ujar Kombes Budi.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved