Breaking News:
Majelis Perwakilan Rakyt Republik Indonesia

Bambang Soesatyo: Inisiatif Indonesia Mengakhiri Eskalasi Ketidakpastian Global

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo berharap kunjungan Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia bisa mencegah eskalasi ketidakpastian global.

Editor: Content Writer
Doc. MPR
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo berharap kunjungan Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia membuahkan hasil dan bisa mencegah eskalasi ketidakpastian global. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan eskalasi ketidakpastian global saat ini harus diakhiri, sebelum rangkaian eksesnya memperluas bencana kemanusiaan akibat terganggunya rantai pasok bahan pangan dan mahalnya harga energi.

Indonesia telah mengambil inisiatif untuk upaya mengakhiri ketidakpastian itu, yang ditandai oleh pertemuan Presiden Joko Widodo dengan pemimpin Rusia dan pemimpin Ukraina, plus pertemuan dengan para pemimpin negara-negara anggota G-7.

Bamsoet juga menyampaikan inisiatif Indonesia itu diwujudnyatakan Presiden Jokowi ketika para pemimpin politik dari negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO (North Atlantic Treaty Organization) di satu sisi, dan pemimpin Rusia di sisi lain, nyaris terjebak dalam kebuntuan komunikasi. Invasi militer Rusia ke Ukraina sudah menempatkan anggota NATO saling berhadap-hadapan dengan Rusia.

"Kebuntuan komunikasi sudah dikonfirmasi Putin ketika pada April 2022 dia mengatakan bahwa dialog dengan Ukraina untuk mengakhiri perang sudah buntu. Sementara itu, NATO pun terus memasok peralatan tempur untuk Ukraina. Kebuntuan komunikasi menjadi semakin jelas ketika Kepala Staf Angkatan Darat Inggris, Jenderal Sir Patrick Sanders, pada 19 Juni 2022, mengingatkan pasukan Inggris harus bersiap untuk berperang di Eropa jika perang di Ukraina berlanjut. Pernyataan ini dibalas Rusia dengan ancaman akan menggunakan rudalnya untuk menghancurkan kota London," jelas Bamsoet dalam Catatan Ketua MPR RI.

Semangat untuk memenangkan dan melindungi kepentingan masing-masing kubu itulah yang menyebabkan terjadinya eskalasi ke ketidakpastian global dengan segala eksesnya.

Untuk mencairkan kebuntuan komunikasi itu, Presiden Jokowi pun, sejak Minggu (26/6/2022), harus melakukan perjalanan ke Jerman guna berdialog dan mencari solusi dengan para pemimpin G-7 yang sebagian di antaranya memang anggota NATO.

Dari Jerman, perjalanan presiden berlanjut ke Ukraina untuk bertemu Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, di Istana Maryinsky, Kyiv, pada Rabu (29/6/2022). Dari kota Kyiv, Presiden melanjutkan perjalanannya ke Rusia dan tiba di Moskow pada Kamis (30/6/2022) untuk menemui Presiden Putin.

Berpijak pada akar masalah, misi Presiden Jokowi memang tidak mudah. Sebab, keseluruhan masalah bermuara pada agresivitas NATO yang terus memperluas keanggotaannya di benua Eurasia. Agresivitas NATO membuat Rusia tidak nyaman.

Bahkan Rusia sudah sampai pada kesimpulan sedang menghadapi ancaman eksistensial. Asumsi ini mendorong Rusia mengembangkan strategi untuk memastikan keamanan dan kedaulatannya, yang salah satunya diaktualisasikan dengan invasi militer ke Ukraina.

"Kendati tidak mudah, sebuah inisiatif harus diambil dan dijabarkan demi stabilitas dan kepastian global, serta mencegah bencana kemanusiaan. Inisiatif Indonesia pun disambut positif oleh komunitas global. Sejumlah negara menyuarakan harapan mereka agar misi Presiden Jokowi berbuah sukses. Di lokasi KTT G-7 di Schloss Elmau, Jerman, para pemimpin dunia pun menyambut Presiden RI dengan hangat dan penuh harapan," kata pria yang juga Dosen Fakultas Hukum, Ilmu Sosial & Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka itu.

G-7 pun pasti berharap misi Presiden RI bisa terwujud, karena masyarakat di negara mereka pun sedang merasakan ekses ketidakpastian global berupa mahalnya harga energi. Selain itu, Presiden Putin yang akhir-akhir ini seperti terlisolasi dari pergaulan antar-pemimpin negara, juga merasa senang karena Presiden Jokowi dalam kapasitasnya sebagai presiden G-20 bersedia datang menemuinya dan berdiskusi untuk mencari solusi.

Sebagaimana dipahami bersama, proses perusakan ekonomi global selama dua tahun pandemi Covid-19 kini terus berlanjut oleh ekses dari perang Rusia dan Ukraina. Kerusakan itu ditandai oleh gangguan pada rantai pasok komoditas pangan dan melonjaknya harga energi.

Dari hasil identifikasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dilaporkan bahwa sedikitnya 94 negara atau sekitar 1,2 miliar jiwa mengalami dampak krisis pangan, energi dan keuangan akibat konflik Rusia-Ukraina.

Konsekuensinya, tak kurang dari 70 negara telah mengajukan proposal bantuan. Sudah 69 negara yang proposalnya disetujui dengan nilai bantuan 17 juta dolar AS. Upaya lain yang dilakukan PBB adalah mendorong kesepakatan Rusia - Ukraina agar bersedia kembali ekspor bahan pangan, termasuk pupuk. Tentu saja realisasi dari upaya PBB ini butuh waktu.

Halaman
12
  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved