Muktamar NU di Makassar
NU Perekat NKRI di Papua
Nahdlatul Ulama (NU)
Demikian disampaikan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Papua dalam penyampaian pemandangan umum atas laporan pertanggungjawaban PBNU di auditorium utama Muktamar ke-32 di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Kamis (25/3).
“Papua sangat menerima NU, terutama Gus Dur yang oleh orang Papua disebut sebagai bapak demokrasi, bapak orang Papua,” kata Wanggai yang menyatakan asli orang Papua.
Dikatakan, pada saat Gus Dur meninggal, orang papualah yang pertama kali mengusulkan tokoh NU itu menjadi pahlawan nasional.
Sementara itu perwakilan wilayah Papua Barat dalam penyampaian pemandangan umumnya menyatakan prihatin terhadap munculnya berbagai peraturan daerah atau Perda yang memaksakan salah satu agama yang dinilai mengancam NKRI.
“Kami meminta PBNU untuk bisa mengatasi perda injil ini. Meskipun belum ditetapkan tapi telah tertulis dimana-mana bahwa akan dipasang salib di masjid, dilarang adzan dengan pengeras suara, dan ibu-ibu disuruh melepas jilbabnya,” kata Ketua PWNU Papua Barat M. Cholid.
Sementara itu PWNU Aceh dalam pemandangan umumnya mengucapkan terimakasih kepada PBNU atas bantuan yang diberikan kepada warga Aceh pada saat terjadinya musibah tsunami.
“Mewakili warga masyarakat Aceh kami mengucapkan terimakasih kepada PBNU. Dan kami ingin Aceh menjadi tuan rumah muktamar NU ke-33 atau ke-34 mendatang,” kata Rais Syuriyah PWNU Aceh, Nurul Zahid Yahya (nu online)