In Memoriam KA Parahyangan
Menjadi Favorit Warga Belanda
Pemberhentian operasi kereta api (KA) Parahyangan menyisakan kesedihan bagi sejumlah orang yang pernah menggunakan jasa angkutan ini. Seharusnya, pemerintah memikirkan sebuah cara yang jitu untuk mengikat para penumpang.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemberhentian operasi kereta api (KA) Parahyangan menyisakan kesedihan bagi sejumlah orang yang pernah menggunakan jasa angkutan ini. Seharusnya, pemerintah memikirkan sebuah cara yang jitu untuk mengikat para penumpang.
Bagaimana ini dilakukan? Salah satunya adalah dengan menjemput dan mengikat penumpang tetap! Beberapa saran kreatif berikut ini mudah-mudahan bermanfaat untuk mempertahankan eksistensi kereta api (Parahyangan dan yang lainnya) sebagai pilihan eksotisme perjalanan Bandung-Jakarta.
Parahyangan sendiri lahir pada pertengahan abad 19, saat itu Bandung masih berupa desa terpencil di pedalaman Tatar Sunda Parahyangan. Padahal kawasan itu adalah penghasil kina dan teh. Transportasi menuju kawasan Bandung yang berkelok-kelok, begitu sulit ditempuh.
Akan tetapi dengan dimulainya pembangunan jalur kereta api di Semarang pada 10 Agustus 1867, maka jalur kereta api Batavia-Parahyangan pun ikut dibangun, yaitu pada 16 Mei 1884. Khususnya untuk mengangkut barang.Sepuluh tahun kemudian, dibangun pula jalur kereta api Jakarta-Surabaya melalui Bandung.
Jalur Jakarta-Bandung menjadi favorit warga Belanda karena pemandangan alam dan hawa yang sejuk. Dari sekadar kota persinggahan, Bandung jadi kota tujuan wisata bahkan tempat tinggal.
Karena menjadi jalur favorit warga Belanda, kereta api yang mengangkut para noni, tuan, mevrouw, dan meneer, pun menggunakan loko uap C28 yang pada saat itu menjadi lokomotif tercepat dengan kecekapatan 90 km/jam.Pemerintah kolonial mengoperasikan KA Vlugge Vier, yang adalah kereta ekspres Jakarta-Bandung dan sungguh elit di zaman itu.
Vlugge Vier sekelas dengan Eendasche Express.Jika Vlugge Vier kemudian menjadi Parahijangan dan kemudian KA Parahyangan, maka Eendashce Express menjadi KA Bima. Nama Parahijangan berubah menjadi KA Parahyangan di awal 1970-an.