In Memoriam KA Parahyangan
Penggantian Nama Terkesan Maksa
"Mana ada sekelas Argo digandeng sama bisnis, yang namanya Argo itu nama belakangnya nama gunung semua, Argo Gede, Argo Lawu, ini terlihat memaksa, " ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Minggu (25/4/2010)
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Koordinator Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) Wilayah Bandung, Pura Krisnamurti mengatakan rencana PT Kereta Api Indonesia untuk tidak menghapus KA Parahyangan dan menggantinya dengan nama Argo Parahyangan terkesan sangat memaksa. Menurut Pura, PT KAI sangat takut kehilangan okupansi penumpangnya.
"Mana ada sekelas Argo digandeng sama bisnis, yang namanya Argo itu nama belakangnya nama gunung semua, Argo Gede, Argo Lawu, ini terlihat memaksa, " ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Minggu (25/4/2010).
Niat PT KAI tersebut dinilai Pura sebagai upaya mengakomodir para penumpang KA Parahyangan yang sebagian besar kelas menengah agar tidak merasa kehilangan jasa KA Parahyangan dan tidak berpindah ke moda transportasi yang lainnya, sperti travel.
Namun, begitu, lanjut Pura, pihaknya tetap menghormati upaya dari PT KAI tersebut sebagai sebuah solusi yang cukup baik, "Tapi kita tetap menghormati apapun keputusan PT KAI tersebut, " tandasnya.
Sebelumnya, Kepala Humas PT. Kereta Api Indonesia Pusat, Adi Suryatmini mengatakan pihaknya tidak akan menghapus KA Parahyangan. Keputusan tersebut diambil karena banyaknya desakan dari masyarakat untuk tidak memberhentikan operasional KA Parahyangan.
Karena itu, PT KAI memilih untuk menggabungkan kelas bisnis yang selama ini berada di KA Parahyangan untuk dioperasikan bersama KA Argo Gede kelas eksekutif, nama kereta pun diganti dengan Argo Parahyangan.