In Memoriam KA Parahyangan
Perlu Diperhatikan Faktor Historis
Pada tahun 1995, PT KA meluncurkan KA Argo Gede jurusa
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pada tahun 1995, PT KA meluncurkan KA Argo Gede jurusan Jakarta-Bandung. Kereta ini sebagai kereta eksekutif andalan PT KA. Maka KA Parahyangan pun mulai kembang kempis.Sepuluh tahun kemudian Tol Cipularang beroperasi. Setelah lima tahun tol itu beroperasi akhirnya perjalanan Parahyangan harus berhenti total.
Agaknya hal itulah yang dianggap politisi sekaligus artis Rieke Diah Pitaloka sebagai sebuah hal yang sangat patut disayangkan. Kenapa tidak, di saat rakyat sedang butuh variasi model transportasi yang juga membuka ruang wisata, pemerintah justru memilih menghentikan operasional KA Parahyangan.
Oleh karena itu, Rieke berharap akan ada win-win solution atas rencana penutupan rute Parahyangan Bandung-Jakarta, karena banyak faktor historis yang berpotensi menjadi sebuah hal yang sangat menarik dan menguntungkan apabila dikelola dengan baik.Terlepas dari sebuah image buruk pada tahun 1980an saat KA Parahyangan sering dipakai untuk berjudi oleh para penumpangya, rencana penutupan operasionalisasi KA Parahyangan ini jika dilihat dalam skala yang lebih luas adalah cermin kurang tanggapnya para pemangku kepentingan negeri kita terhadap perkembangan kebutuhan transportasi massal.
Dalam kasus spesifik Parahyangan, dapat melihat dengan jelas bahwa core benefit yang diinginkan masyarakat dalam memilih transportasi publik terutama adalah kecepatan untuk tiba di tempat tujuan.
Dibukanya jalur tol Cipularang hanyalah pembuktian yang idealnya telah diantisipasi sebelumnya hingga ditemukan alternatif strategi pengoperasian Parahyangan agar tetap kompetitif di pasar jasa angkutan.
PT KA dalam hal ini telah berusaha menawarkan benefit lain kepada konsumennya, yaitu dengan penurunan tarif. Keputusan cukup berani ini tentu jauh lebih murah dibandingkan dengan solusi teknologi dengan menggunakan kereta api bullet seperti di Jepang, misalnya.
Namun semua tahu, penurunan tarif ini efeknya masih kurang signifikan dalam mendongkrak okupansi kereta api, kecuali di akhir pekan.Mempertahankan tingkat okupansi minimal adalah strategi bisnis paling elementer dalam sebuah perusahaan angkutan yang perlu diikuti strategi fungsional berupa perpaduan antara kreativitas pemasaran dan keunikan pelayanan yang paralel dengan kemudahan reservasi.