In Memoriam KA Parahyangan
Selamat Jalan Parahyangan, Selamat Jalan...
Selamat ja
KOMPAS.com — Selamat
jalan “Parahyangan”. Demikian kalimat itu meluncur dari mulut banyak
orang. Tentu orang ini begitu terikat dengan “Parahyangan”. Parahyangan
di sini maksudnya bukan Tatar Sunda Parahyangan, melainkan Kereta Api
Parahyangan jurusan Jakarta-Bandung PP.
Awal minggu depan, jalur Jakarta-Bandung yang sudah lebih dari 40 tahun lalu
dilayani KA Parahyangan akan ditutup total.
Sejak Tol
Cipularang dibuka sekitar lima tahun lalu, KA Parahyangan makin
tenggelam. Meski harga tiket bisnis sudah didiskon hingga Rp 20.000,
lebih banyak gerbong kosong yang harus jadi tanggungan PT Kereta Api
(Persero) yang merugi hingga Rp 36 miliar per tahun. Maka dari itu, PT
KA pun tetap melihat jalur ini tak lagi menguntungkan sehingga perlu
ditutup.
Tol Cipularang dan menjamurnya travel Jakarta-Bandung
PP yang makin menjemput calon pelanggan, dengan waktu tempuh yang makin
pendek, menjadi idola baru komuter Jakarta-Bandung dan Bandung-Jakarta.
“Padahal dari sisi harga, lebih mahal dibandingkan kereta,” ujar Ketua
Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) Aditya Dwi Laksana,
menjawab Warta Kota, beberapa waktu lalu.
Aditya
tentu menyayangkan keputusan PT KA yang langsung menghentikan
pengoperasian kereta legendaris tersebut. “(KA) Parahyangan itu punya
historis sendiri. Kereta itu mengalami masa jaya pada akhir 1980-an dan
awal tahun 1990-an, sampai ada Tol Cipularang.
Setelah itu, yang saya
lihat, sudah ada berbagai langkah yang diambil pihak direksi, sampai
mendiskon harga tiket bisnis secara besar-besaran. Namun, tetap saja,
hal itu tidak mencapai okupansi yang diperlukan untuk menutup biaya
operasi. Harusnya paling tidak 80 persen okupansi, tetapi ini hanya 50
persen. Jadi, direksi menetapkan untuk menutup jalur itu, diganti KA
Argo Gede,” paparnya.
Tentu saja penggemar KA Parahyangan
tetap ada. Maka dari itu, sebaiknya PT KA tidak menutup secara total,
tapi bertahap, misalnya dengan mengurangi frekuensi. Jika awalnya lima
kali sehari, misalnya, maka kini menjadi hanya tiga kali. Bisa pula
dengan hanya mengoperasikannya pada akhir pekan (Jumat, Sabtu, dan
Minggu) serta Senin ketika jumlah orang ke Bandung dan Jakarta biasanya
meningkat.
Terkait keberadaan Tol Cipularang, menurut
Aditya, sebenarnya yang terkena dampak tak hanya KA Parahyangan, tapi
juga bus antarkota Jakarta-Bandung. Pembangunan jalan tol seperti
Cipularang, menghubungkan kota, pada akhirnya juga akan menambah kisah
jalur kereta api yang mati.
“Ini akan memperlihatkan bahwa
transportasi yang di negara maju makin berkembang, di Indonesia makin
banyak yang mati. Moda itu kalah oleh moda lain karena pembangunan jalur
dan jalan yang tidak mempertimbangkan jalur transportasi kereta api
yang sudah ada sejak zaman Belanda,” tutur Aditya.
Demikianlah
jika pemerintah tak punya political will dalam upaya
mengembangkan moda transportasi ramah lingkungan, massal, dan terjangkau
kantong masyarakat.
Padahal tak lama berselang, PT KA,
dalam hal ini divisi Pelestarian Benda dan Aset Bersejarah, baru saja
memperkenalkan pada khalayak tentang wisata sejarah sepanjang jalur
Jakarta-Bandung menggunakan KA Parahyangan. “Memang, wisata itu bisa
diganti oleh KA Argo Gede, tapi secara finansial kan tidak
tergantikan. Harga tiket Parahyangan dan Argo Gede kan berbeda jauh,”
tambah Aditya.
Harapan pengguna kereta api tentu saja bahwa
jalur kereta api dan kereta api-nya bisa bertambah maju dan berkembang,
bukannya malah makin banyak kisah memilukan, yaitu jalur mati dan
stasiun mati. Tengok saja, sudah berapa banyak jalur dan stasiun mati
karena PT KA merugi gara-gara masyarakat tergila-gila pada moda lain,
kendaraan umum, yang bisa menaikkan dan menurunkan penumpang seenaknya?
Di beberapa daerah, moda itu bahkan jadi biang kemacetan.
Pada
tahun 1980-an, kereta api di Pulau Jawa mulai ditinggalkan penumpang
dengan masuknya colt, begitu penumpang menyebut. Padahal
maksudnya angkutan umum atau angkutan kota (angkot). Hanya, pada tahun
1980-an, entah siapa yang memasok mobil bermerek Colt ke pelosok Jawa,
mengubah pola masyarakat dalam bertransportasi dan itu tak hanya terjadi
di Pulau Jawa. Maka dari itu, satu demi satu, layanan kereta api pun
dihentikan, jalur pun jadi dead railway, dan demikian pula
stasiun. Di otak warga desa, colt adalah angkutan modern yang
lebih enak.
Padahal, di negara maju mana pun di dunia ini,
transportasi modern itu adalah kereta api; bukan colt, bukan
angkot, bukan metromini, bukan kopaja, bukan bus yang semuanya sudah tak
laik jalan karena menyebarkan asap gelap. Tindakan ini sangat tidak Go
Green dan juga bikin jalanan di desa makin padat dengan akibat udara
jadi makin kotor.