In Memoriam KA Parahyangan
Vlugge Vier, Parahijangan, dan KA Parahyangan
Beberapa waktu lalu, Pusat Pelestarian Benda dan Aset Bersejarah PT Kereta Api (Persero) mengajak beberapa pihak terkait wisata, termasuk wartawan, untuk melihat betapa berharganya jalur Jakarta-Bandung dan betapa kaya akan sejarah.
TRIBUNNEWS.COM - Beberapa
waktu lalu, Pusat Pelestarian Benda
dan Aset Bersejarah PT Kereta Api (Persero) mengajak beberapa pihak
terkait wisata, termasuk wartawan, untuk melihat betapa berharganya
jalur Jakarta-Bandung dan betapa kaya akan sejarah.
Divisi tersebut
memang memperkenalkan jenis wisata baru, Heritage Railway Trip. Tapi tidak menggunakan KA
Parahyangan, melainkan KA Argo Gede dengan tarif Rp 100.000/orang PP.
Jika selama puluhan tahun penumpang kereta
Jakarta-Bandung tak sadar bahwa jalur tersebut adalah jalur bersejarah,
maka melalui wisata sejarah kereta api itu, PT KA ingin menyadarkan
warga pada nilai sejarah jalur tersebut. Meskipun, tentunya, warga yang
ingin ber-wisata murah meriah menggunakan KA Parahyangan hanya punya
kesempatan hingga sebelum 27 April ini.
Pertengahan abad 19, Bandung masih
berupa desa terpencil di pedalaman Tatar Sunda Parahyangan. Padahal
kawasan itu adalah penghasil kina dan teh. Transportasi menuju kawasan
Bandung yang berkelok-kelok, begitu sulit ditempuh.
Namun dengan dimulainya pembangunan
jalur kereta api di Semarang pada 10 Agustus 1867, maka jalur kereta api
Batavia-Parahyangan pun ikut dibangun, yaitu pada 16 Mei 1884.
Khususnya untuk mengangkut barang, demikian dikisahkan Widoyoko, salah
satu anggota Indonesian Railway Preservation Society (IRPS).
Sepuluh tahun kemudian, dibangun pula
jalur kereta api Jakarta-Surabaya melalui Bandung. Jalur
Jakarta-Bandung menjadi favorit warga Belanda karena pemandangan alam
dan hawa yang sejuk. Dari sekadar kota persinggahan, Bandung jadi kota
tujuan wisata bahkan tempat tinggal.
Karena
menjadi jalur favorit warga Belanda, kereta api yang mengangkut para
noni, tuan, mevrouw, dan meneer, pun
menggunakan loko uap C28 yang pada saat itu menjadi lokomotif tercepat
dengan kecekapatan 90 km/jam.
Pemerintah kolonial
mengoperasikan KA Vlugge Vier, yang adalah kereta ekspres
Jakarta-Bandung dan sungguh elit di zaman itu. Vlugge Vier sekelas
dengan Eendasche Express. Jika Vlugge Vier kemudian menjadi Parahijangan
dan kemudian KA Parahyangan, maka Eendashce Express menjadi KA Bima.
Nama Parahijangan berubah menjadi KA Parahyangan di awal 1970-an.
Kereta api ini kemudian melanjutkan
perjalanan di masa kolonial, melintas sepanjang 151 km. Jalur ini melintasi beberapa
pemandangan menarik dan bersejarah. Sebut saja Terowongan Sasaksaat
sepanjang 950 m. Terowongan yang dibangun di awal abad 20 ini menembus
Bukit Cidepong dan ribuan orang harus tewas dalam kerja rodi tersebut.
Selain itu ada pula
jembatan yang dilalui kereta tersebut. Jembatan di lintas Purwakarta
hingga Padalarang itu adalah Ciganea, Cisomang, dan Cikubang dengan
Sungai Cikubang. Jembatan sepanjang 300 m dengan empat pilar baja
seberat sekitar 110 ton menghiasi Jembatan Cikubang.
Tahun 1995, PT KA meluncurkan KA Argo Gede jurusan Jakarta-Bandung. Kereta ini sebagai kereta eksekutif andalan PT KA. Maka KA Parahyangan pun mulai kembang kempis. Sepuluh tahun kemudian Tol Cipularang beroperasi. Setelah lima tahun tol itu beroperasi akhirnya perjalanan “Vlugge Vier”pun harus berhenti total pada 27 April mendatang. (WARTA KOTA/Pradaningrum Mijarto)