Rabu, 10 Juni 2026

Wartawan Kompas Meninggal

Ini Tulisan M Syaifullah Mengkritisi Lingkungan Hidup

Berikut ini tulisan wartawan Kompas biro Kalimantan, M Syaifullah (43) alias Iful yang ditemukan meninggal dunia mencurigakan, Senin (26/7/2010).

Tayang:
Editor: Iswidodo

Banyak tulisan M Syaifullah berkaitan dengan topik lingkungan hidup termasuk illegal logging, pertambangan batubara, perambahan hutan,  pembukaan lahan kelapa sawit dan  illegal fishing yang telah dimuat kompas.

M Syaifullah (43) alias Iful ditemukan tak bernyawa dengan kondisi mencurigakan. Saat ditemukan dia ada di depan TV kondisi off,  mengenakan sarung dan di dekatnya ada remot kontrol.

Ayah dua anak ini tinggal di rumah dinasnya di Balikpapan, sejak Sabtu Isnainijah istrinya di Banjarmasin sudah kehilangan kontak dan teleponnya tak bisa dihubungi. Tatkala ditemukan, jenazahnya dalam keadaan lebam dan mengeluarkan busa serta ada sedikit bekas darah di mulutnya.

Tulisannya banyak dan panjang, tribunnews.com mengambil lead atau angle singkat saja yaitu :

=============================================

Warga Blokir Jalan Tambang Milik PT Adaro
Laporan wartawan KOMPAS M Syaifullah
Terbit 20 Mei 2010

BANJARMASIN, KAMIS-Seratusan warga dari Desa Padangpanjang, Kecamatan Tanta, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, sampai Kamis (20/5) siang dilaporkan masih melakukan aksi blokir jalan tambang milik perusahaan pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia di kilometer 67. Aksi tersebut dilakukan  warga sejak Rabu malam.

Kepala Kepolisian Resor (Polres) Tabalong, Ajun Komisaris Besar Polisi Taufik Supriyadi yang dihubungi di Tanjung, ibukota Kabupaten Tabalong, Kamis (20/5), mengatakan, aksi warga tersebut terus berlangsung karena belum ada titik temu antara tuntutan masyarakat setempat dengan pihak perusahaan.

Taufik mengatakan, sejumlah tuntutan itu karena adanya protes warga terkait dengan kegiatan peledakan (blasting) di pertambangan di daerah tersebut.  (FUL)

=============================================

Sumber Energi Melimpah tapi Tidak Kebagian Energi
Laporan wartawan KOMPAS M Syaifullah
Terbit Rabu, 13 Januari 2010

Punya sumber energi melimpah, tetapi tidak kebagian energi. Inilah ironi Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan, yang memiliki hamparan gunung-gemunung batu bara dengan jumlah tiada terbilang banyaknya.

Tumpukan padi menggunung di atas altar sesaji saat memasuki ruang tengah Balai Adat Desa Haratai, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Selasa (12/1). Seratusan pasang mata para damang, pemuka  masyarakat, dan warga Dayak Meratus yang mengelilingi gunungan padi itu seolah tak berkedip.

Mereka bukan sedang menggelar ritual aruh ganal, yakni syukuran panen padi, tetapi menatap layar di sudut dalam balai. Ini sesuatu yang baru. Layar itu mempertontonkan saat warga membangun pembangkit tenaga listrik mikrohidro (PLTMH) di dekat kampung mereka. Penyediaan listrik bertenaga air dari Hutan Lindung Buntasan inilah yang mereka syukuri.

Ironis memang! Pegunungan Meratus yang mengandung jutaan ton sumber energi berupa batu bara tidak bisa menyediakan penerangan bagi masyarakat setempat.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved