Penggerebekan Teroris

Ini Identitas Lima Teroris dan Barang Bukti yang Disita

Mabes Polri mengklaim menyita barang bukti kejahatan terorisme dari operasi penindakan teroris di Jawa Barat.

zoom-inlihat foto Ini Identitas Lima Teroris dan Barang Bukti yang Disita
TRIBUNNEWS.COM/DANY PERMANA
Anggota Densus 88 Anti Teror, bersama anggota Polda Jabar, dan Tim dari Mabes Polri, menyisir wilayah sekitar kontrakan milik Joko, yang didiami Fachri (tersangka teroris) bersama dua orang temannnya, Sabtu (7/8/2010) di Kampung Sukaluyu, RT 02 RW 12, Kelurahan Pasir Biru, Kecamatan Cibiru, Kabupaten Bandung.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vanroy Pakpahan

TRIBUNNEWS, JAKARTA - Mabes Polri mengklaim berhasil menyita beberapa barang bukti kejahatan terorisme dari operasi penindakan teroris di Bandung dan Subang, Padalarang, dan Cileunyi.

"Hasil tangkapan di Cibiru, kami menangkap dua teroris yakni Fahrul Ruzi Tanjung alias Baid dan Hamzah alias Helmi. Mereka ditangkap berikut satu unit Mitsubishi Galant," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang di Mabes Polri, Jakarta, Senin (9/8/2010).

Dari terduga teroris di Subang, yaitu Gofur, Densus menyita sejumlah senjata, amunisi, dan bahan baku bom. "54 butir amunisi kaliber 38, cairan asam nitrat dan pupuk urea. Tabung-tabung kimia bahan urea. Sempat terjadi kejar-kejaran karena (Gofur) berusaha lari dengan sepeda motor," tuturnya.

Di Padalarang Polri menangkap Kurnia Widodo, seorang sarjana lulusan teknik kimia suatu perguruan tinggi. "Dialah yang menjadi teknisi dalam laboratorium milik teroris (di Cikuda) itu. Yang mengatur campuran-campuran dan sebagainya untuk bom itu," ucapnya. Bom berdaya ledak tinggi hasil laboratorium itu, menurut Edward, sudah dua kali diuji cobakan kelompok teroris di pegunungan di daerah Sumedang.

Sementara itu dari Dicky alias Ustad Kiki yang ditangkap di terminal Cileunyi, Densus menemukan detonator bom. "Disita bahan-bahan pembuatan bom, buku tentang jihad, urea fotakin, forat, detonator, timbangan digital dan bahan untuk merakit," tuturnya.

"Densus menemukan benang merah yang sangat jelas bahwa proses pelatihan militer di Aceh, rencana-rencana peledakan mereka itu merupakan satu proses perencanaan yang tersusun rapi, terorganisasi dengan baik. Dan sudah lebih canggih," tutupnya.(*)

Penulis: Vanroy Pakpahan
Editor: Juang Naibaho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved