Wartawan Kompas Meninggal
Polisi Serahkan Organ Dalam Syaifullah Usai Uji Forensik
Tak kurang 18 item organ dalam almarhum M Syaifullah, diserahterimakan penyidik kepada keluarga almarhum yang diwakili wartawan Kompas Tri Haryono
TRIBUNNEWS.COM, BALIKPAPAN - Tak kurang dari 18 item organ dalam almarhum Muhammad Syaifullah, Kepala Biro Kompas Kalimantan, yang dibawa penyidik Polresta Balikpapan ke laboratorium forensik Polda Jawa Timur, akhir Juli lalu, akhirnya diserahterimakan antara pihak penyidik Polres Balikpapan Brigpol Iswanto kepada keluarga almarhum yang diwakili wartawan Kompas Tri Haryono, Sabtu (21/8/2010) malam.
Menurut rencana, organ dalam tersebut akan langsung dibawa ke Kandangan, Kalimantan Selatan, malam ini juga dan dikuburkan bersama jenazah almarhum yang sudah lebih dulu dikuburkan.
"Tidak ada prosesi serah terima resmi. Kami hanya serah terima dengan diketahui penyidik saja. Untuk selanjutnya langsung dibawa ke Kandangan dan diperkirakan tiba pukul 10.00 pagi," kata pria yang akrab disapa Mas Tri.
Menurut Tri, organ dalam yang dibawa kali ini merupakan organ dalam hasil pemeriksaan patologi dari Dr Soetomo Surabaya. Sedangkan hasil pemeriksaan forensik Polda Jatim sudah dikirim satu minggu setelah penguburan.
"Ini organ dalam yang terakhir. Jadi ada dua pemeriksaan. Satu di labfor, satu lagi di RSU Dr Soetomo Surabaya," ujar Tri.
Terpisah, Kapolres Balikpapan AKBP A Rafik mengatakan hasil labfor pemeriksaan organ dalam baru diambil penyidik, Sabtu (21/8/2010). "Hasil akhirnya belum diketahui. Nanti kalau sudah saya terima baru tahu apa hasil pemeriksaan organ dalam tersebut. Mungkin Senin (23/8/2010) lusa," ujar Rafik.
Seperti diketahui, penyidik mengirimkan belasan item organ dalam di antaranya, pankreas, usus halus, otak, limpa, ginjal kanan dan kiri serta paru-paru kanan dan kiri, untuk diperiksa di labfor Polda Jatim.
Sejauh ini, penyebab meninggalnya M Syaiful baru diketahui berdasarkan hasil otopsi saja, yakni serangan jantung dan tekanan darah tinggi. Maklum, sejumlah kabar merebak di balik kematian mendadak Muhammad Syaifullah, sehingga dibutuhkan hasil pemeriksaan yang akurat untuk menentukan secara medis penyebab meninggalnya almarhum.
Syaifullah bergabung ke Kompas tahun 1999. Dia meninggalkan satu istri dan dua anak. Syaifullah atau akrab disapa Pul dikenal sebagai wartawan yang bersemangat, rajin, dan peduli pada lingkungan.
Banyak tulisannya yang berisi keprihatinan tentang kerusakan alam di Kalimantan. Selama menjadi wartawan Kompas, Syaifullah banyak bertugas di wilayah Kalimantan, mulai dari Samarinda, kemudian ke Pontianak, Banjarmasin, lalu menjadi Kepala Biro wilayah Kalimantan dan tinggal di Balikpapan. Syaifullah merupakan kelahiran Hulu Sungai Selatan, Kalsel, itu merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret.