Kontroversi IPO Krakatau Steel
Pramono Desak Keterbukaan Penjualan Saham Krakatau Steel
Penjualan saham PT Krakatau Steel yang murah membuat masyarakat gelisah. Pemerintah sepatutnya lebih transparan dan terbuka.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penjualan saham PT Krakatau Steel yang murah membuat masyarakat gelisah. Atas kebijakan tersebut, pemerintah sepatutnya lebih transparan dan terbuka.
Hal ini ditegaskan Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung di gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (4/11/2010).
Menurut Pramono, jangan sampai penjualan saham yang murah ini terkesan ditutup-tutupi pemerintah. "Saya anggap Rp 850 untuk menjual 20 persen itu sangat murah," katanya.
Berkaca pada right issue yang dilakukan BNI atau bank Madiri, Pramono menganggap, sepatutnya proses initial public offering (IPO) atau penawaran saham perdana PT Krakatau Steel (KS) berjalan terbuka, baik volume, harga maupun penentuannya.
"Dan persetujuannya dilakukan di komisi VI dan XI," tuturnya seraya menyebut persetujuan IPO KS diberikan Dewan pada periode yang lalu.
"Jangan sampai persetujuan yang lalu itu nggak disebutkan jumlah dan harga," urainya.
Mantan Sekjen PDI Perjuangan ini mendorong pemerintah untuk menunda penjualan saham KS. Pasalnya, KS merupakan industri strategis.
"Dulu memang pernah kolaps, tapi sekarang ini sudah mengalami kapitalisasi yang sangat baik. Jadi ini merugikan," imbuhnya.(*)