Senin, 19 Januari 2026

Bocoran Wikileaks Seputar SBY

Baca The Age, SBY Kaget

Presiden SBY dikatakan kaget dan tak menyangka ketika membaca berita harian terkemuka Australia, The Age dan The Sydney Morning Herald

Editor: Gusti Sawabi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dikatakan kaget dan tak menyangka ketika membaca berita harian terkemuka Australia, The Age dan The Sydney Morning Herald, yang membeberkan bahwa dirinya menyalahgunakan kekuasaan.

"Tentu Presiden sangat kaget, tidak menyangka. Dan kami juga kesulitan karena memang tidak dilengkapi data meskipun ada tiga halaman yang ditulis di dalam Sydney Morning Herald, tapi ini betul-betul tidak akurat. Banyak nama, bukan hanya Presiden SBY dan Ibu Negara yang disebut. Dan saya kira pihak-pihak yang disebutkan namanya mungkin akan terkaget-kaget juga dengan pemberitaan itu," kata Julian kepada wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (11/3/2011).

Julian menyebut, pemberitaan yang dilansir The Age dan The Sydney Morning Herald sangat sembrono. "Saya tidak tahu apakah ini nemu di jalan pemberitaannya, sehingga akhirnya muncul berita seperti ini," kata Julian.

Julian mengatakan, pihak Istana Kepresidenan RI akan menggunakan hak jawab guna merespons pemberitaan tersebut. 

Harian Australia, The Age, Jumat (11/3/2011), memuat berita utama tentang penyalahgunaan kekuasaan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Laporan harian itu berdasarkan kawat-kawat diplomatik rahasia kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta yang bocor ke situs WikiLeaks.

Kawat-kawat diplomatik tersebut, yang diberikan WikiLeaks khusus untuk The Age, mengatakan, Yudhoyono secara pribadi telah campur tangan untuk memengaruhi jaksa dan hakim demi melindungi tokoh-tokoh politik korup dan menekan musuh-musuhnya serta menggunakan badan intelijen negara demi memata-matai saingan politik dan, setidaknya, seorang menteri senior dalam pemerintahannya sendiri.

Kawat-kawat itu juga merinci bagaimana mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Desember 2004 dilaporkan telah membayar jutaan dollar AS, sebagai uang suap, agar bisa memegang kendali atas Partai Golkar. Kawat-kawat itu juga mengungkapkan bahwa istri Presiden, Kristiani Herawati, dan keluarga dekatnya ingin memperkaya diri melalui koneksi politik mereka.

Laporan The Age itu muncul saat Wakil Presiden Boediono mengunjungi Canberra, hari ini, untuk berbicara dengan Wayne Swan yang bertindak sebagai Perdana Menteri Australia, dan berdiskusi dengan para pejabat negara itu tentang perubahan administratif untuk mereformasi birokrasi di Indonesia.

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved