Kamis, 9 April 2026

Inilah Ancaman Pembunuhan terhadap Pendiri PKS Yusuf Supendi

Pendiri Partai Keadilan, yang kini berubah nama jadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Yusuf Supendi yang melaporkan sejumlah elite PKS ke Badan

Editor: Anwar Sadat Guna
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Willy Widianto

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pendiri Partai Keadilan, yang kini berubah nama jadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Yusuf Supendi yang melaporkan sejumlah elite PKS ke Badan Kehormatan DPR RI, mengaku pernah diancam dibunuh.

Hal tersebut terjadi lantaran somasi yang ia layangkan ke Majelis Dewan Syuro PKS pasca-Mukernas PKS dan keluarnya pernyataan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq yang mengatakan bahwa PKS adalah partai terbuka.

Ancaman tersebut datang melalui pesan singkat dan berasal dari Luthfi Hasan Ishaaq serta diduga preman bayaran.

Tidak hanya itu, kediaman Yusuf di Pasar Rebo, Jakarta Timur juga dicorat-coret orang tidak dikenal.

"Saya diancam mau dibunuh, dan sejak tahun 1990 rumah saya tidak pernah dicoret-coret, tapi waktu itu ada yang mencoret," ujar Yusuf saat ditemui di gedung DPR, Jakarta, Kamis (17/3/2011).

Berikut ini isi pesan singkat bernada ancaman yang diduga dikirimkan  oleh Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq kepada Yusuf;

Isi pesan: "Selama ini ikhwah yang marah pada antum dan ingin merespon secara fisik dan hukum selalu kami tahan, ihtiroman li fadllikum alaina, sekarang sulit menahannya karena antum sudah melangkah terlalu jauh, kalo boleh ana kasih saran, baiknya antum mulai mengosongkan rumah, khawatir ada yang tidak dapat menahan diri".

Pengirim: Luthfi Hasan Ishaaq 0816940797
Diterima: 23.20 WIB tanggal 23 Juni 2010.

Isi pesan: "Selama ini antum membentur dan membenturkan diri antum pada institusi besar dengan membawa serta isteri dan anak antum, dengan sangat keras!! Selama ini pendulumnya belum pernah kembali hingga antum belum pernah merasakan benturan balik, sebelum pendulum balik tiba, menghindar adalah pilihan antum yang terbaik, karena ia akan sangat keras dan tidak tahu apakah masih ada yang mampu menahannya"

Pengirim: Luthfi Hasan Ishaaq 0816940797
Diterima : 04.36 WIB tanggal 24 Juni 2010.

Isi pesan: "Baiknya jangan coba-coba pasang badan menghadang karena antum sendirian, pendulumnya adalah institusi besar dengan ratusan pendukung bermata gelap, siapapun yang bersama antum tidak akan mampu bertahan menghadang pendulum tersebut"

Pengirim: Luthfi Hasan Ishaaq 0816940797
Diterima: 04.41 WIB tanggal 24 Juni 2010.

Isi pesan: "Hahahaa....Jakarta kota preman sekarang bung, jendral aja bisa ilang tiba-tiba nyawanya tanpa diketahui siapa nyang bunuh, apalagi sama seekor Sup Yusuf, bandot tua yang serakah, sup, rume lo gue tau, anak istri lo gue kenal, mati emang cuma sekali, Sup tp klo nyang mati anak ape bini baru nyesel lo, gue month liat ape lo masi bawe golok kemane2?"

Pengirim: 083898868111
Diterima: 22.10 WIB tanggal 4 Oktober 2010

Isi pesan: "Terakhir ni yee, bilang sm si anjing, nt bw2 I'm keluar nt bkn lg berhadapan sama Hilmi ape si Luthfi, tp berhadepan sm gue, jgn cume kemane-mane bw golok, bw rudal sekalian gue godot tu orang, pokoknye, tau ude ngambang di got, nih gue, kagak pake parte ato organisasi ape2, klo gagak diem tu congornye si Anjing jgn bilang gue, coba aje, bw I'm segale gue irup darahnye tu setan tue".

Pengirim: 083898126868
Diterima: 22.11 WIB tanggal 15 Oktober 2010

Atas ancaman tersebut, Yusuf Supendi melayani para peneror dengan lapang dada, biar peneror puas mengungkap isi hatinya sebagai wujud karakter aslinya yang dibungkus Ikhwanul Muslimin (IM) di Indonesia.

Yusuf juga sudah melaporkan hal tersebut ke Polsek setempat, yakni di dekat kediamannya di bilangan Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Alat bukti sudah disave oleh aparat keamanan bahwa jika terjadi tindakan kekerasan fisik, penghancuran rumah, pembunuhan terhadap istri, dan anak-anaknya, aktor intelektualnya adalah Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq dan perlu diusut sampai ke akar-akarnya, termasuk Hilmi Aminuddin yang sebelumnya mendirikan Jamaah Ikhwanul Muslimin di Indonesia membaiat H Abd Syukur menjadi NII.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved