HTI Setuju Hukuman Mati

Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Muhammad Ismail Yusanto mengatakan pihaknya menyetujui praktek hukuman mati.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Muhammad Ismail Yusanto mengatakan pihaknya menyetujui praktek hukuman mati.

"Hukuman mati iya setuju, tapi hukuman matinya seperti apa bisa dibicarakan lagi," katanya disela-sela Konferensi Rajab di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Rabu (29/6/2011).

Ia mengatakan, soal bentuk dari hukuman mati itu pilihan, akan tetapi pada prinsipnya hukuman mati itu ada dalam Islam.

Sikap HTI ini sangat bertolak belakang dari beberapa LSM yang meminta agar Indonesia menghapus hukuman mati menyusul hukuman pancung terhadap TKW asal Kampung Ceger, Sukatani, Bekasi, Ruyati binti Satubi di tanah Arab.

Sesuai peraturan Internasional, Rusdy menuturkan bahwa untuk mengajukan pembatalan terhadap hukuman mati terhadap WNI di negara lain, maka Indonesia harus terlebih dahulu menghapuskan praktik hukuman mati.

Ia menambahkan praktik penghapusan hukuman mati itu sudah dilakukan terhadap Pollycarpus, Pilot Garuda yang terbukti melakukan pembunuhan terhadap Munir. Dalam kasus tersebut, pemerintahan Belanda telah ikut intervensi, dan meminta agar Pollycarpus yang didakwa dengan pasal 340 KUHP mengenai pembunuhan berencana, untuk tidak dihukum mati.

Alex Argo Hernowo dari LBH Masyarakat juga mengatakan bahwa terbukti selama ini hukuman mati tidak membuat para penjahat jera. Hukuman tersebut banyak diterapkan pada kasus narkotika dan terorisme, namun jumlah kejahatan pada kasus sejenis tidak kunjung membaik.

Menanggapi hal itu, Ismail Yusanto menyatakan soal hukuman pancung di Arab Saudi terkait banyak hal.

"Kenapa Ruyati dihukum pancung karna dia menyiksa. Kenapa dia menyiksa karena majikannya jahat," tuturnya.

Yang menjadi pertanyaan juga adalah kenapa Ruyati jadi TKW. Pasalnya, menurut Ismail, adalah dampak dari kemiskinan akibat sistem ekonomi yang kapitalistik.

"Oleh karena itu hentikan kapitalisme liberalistik itu," tandasnya.

Berita Populer
Penulis: Iwan Taunuzi
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved