Mangku: Munir Dibunuh Pakai 2 Gram Lebih Arsenik

Mangku Sitepu, yang dihadirkan Kuasa Hukum Pollycarpus Hari Priyanto, meyakini Munir meninggal karena diracun menggunakan arsenik lebih 2 gram

Mangku: Munir Dibunuh Pakai 2 Gram Lebih Arsenik
IST
Munir, aktivis HAM yang tewas di pesawat saat menuju Belanda.

Laporan wartawan Tribunnews.com, Samuel Febriyanto

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mangku Sitepu, ahli racun sekaligus dokter, yang dihadirkan Kuasa Hukum terdakwa kasus pembunuhan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Munir, Pollycarpus Hari Priyanto, meyakini Munir meninggal karena diracun menggunakan arsenik berkadar lebih dua gram, yang diberikan sekaligus melalui mulut.

"Setidaknya harus diberikan sekaligus," ucap Mangku kepada Tribunnews.com, yang menemuinya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (5/7/2011), pagi.

Racun arsenik yang masuk ke dalam tubuh Munir, menurutnya, ditemukan di dalam lambung, dengan itu ia merasa yakin racun arsenik masuk melalui mulut. "Karena dijumpai dalam lambung," ucapnya.

Ia menduga racun arsenik tersebut, dimasukkan ke dalam tubuh Munir melalui makanan atau minuman. "Bisa melalui larutan dan makanan, karena arsenik sifatnya tidak berbau, tidak berwarna, dan tak memiliki rasa," ucapnya.

Bila racun arsenik masuk ke dalam tubuh, menurutnya butuh setengah hingga satu jam untuk bereaksi. "Membutuhkan waktu setengah jam hingga satu jam hingga terasa mual-mual dan pusing kepala," jelasnya.

Sementara itu Sunarto, ahli farmasi, yang juga diajukan oleh Tim Kuasa Hukum Pollycarpus menjadi ahli dalam persidangan kliennya, menduga racun yang dimasukkan ke dalam tubuh Munir adalah arsenik berjenis paresgrin. "Warna hijau, itu arsenik. Dipakai untuk racun tikus," katanya.

Anggota Tim Kuasa hukum Pollycarpus, Muhammad Assegaf, yang ditemui wartawan di PN Jakpus, menyatakan, tak mungkin Munir meninggal karena diracun arsenik. "Di tubuh Munir ditemukan hanya 400 miligram sedangkan kadar minimal untuk menyebabkan seorang terbunuh dua gram, jadi kadarnya kecil sekali, untuk melarutkan membutuhkan waktu lama, jadi bisa ketahuan oleh Munir, jadi tidak mungkin," ucapnya.

Seperti diberitakan hari ini, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, mengagendakan sidang Peninjauan Kembali pembunuhan aktivis HAM, Munir, dengan terdakwa Pollycarpus Priyanto.
Sidang rencananya digelar pukul 11.00 WIB, dengan agenda menghadirkan barang bukti, dan mendengarkan keterangan saksi, ahli, yang diajukan oleh Tim Kuasa Hukum Pollycarpus.

Tim Kuasa Hukum Pollycarpus hari ini, akan menghadirkan keterangan ahli Sunarto, mantan Dekan Fakultas Farmasi Pancasila, dan Mangku Sitepu, Dokter bidang racun, dan Siswo Putranto, Ahli Forensik, di dalam sidang.

Ketiganya menurut pantauan Tribunnews.com, sudah memenuhi pemanggilan untuk memberikan keterangan di dalam sidang hari ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, Polly didakwa melakukan pembunuhan pada Munir pada September 2004. Kemudian Polly disidang di PN Jakpus dan divonis 14 tahun penjara.
Kemudian di tingkat banding putusan 14 tahun dikuatkan.

Di tingkat kasasi Mahkamah Agung (MA) hanya memvonis Polly dua tahun penjara. Namun, kasus Polly tak sampai di situ, pihak jaksa mengajukan PK. Di tingkat PK ini, Polly divonis 20 tahun penjara. Proses PK yang diajukan jaksa inilah yang dijadikan salah satu senjata Polly dalam mengajukan PK.

Penulis: Samuel Febrianto
Editor: Gusti Sawabi
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved