Breaking News:

Indonesia Pimpin Standarisasi Tempe di Dunia

Indonesia menjadi negara yang memimpin membuat standar internasional untuk tempe.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia menjadi negara yang memimpin membuat standar internasional untuk tempe.

Badan Standarisasi Nasional (BSN) menargetkan, pertengahan tahun depan, standar tempe sudah diusulkan di Jepang untuk disepakati negara Asia dan diusulkan ke dunia internasional. 

Kepala BSN Bambang Setiadi mengatakan, mempejuangkan standarisasi tempe untuk diakui di dunia tidak gampang.

"Sekarang sudah diputuskan Indonesia menjadi negara yang memimpin pembuatan standarnya," ungkap Bambang, dalam konferensi pers, di Jakarta, Rabu (20/7/2011).

Dia melanjutkan hingga sekarang belum ada standar internasional untuk tempe. Dengan ditunjuknya Indonesia sebagai pemimpin yang membuat standar tempe, kini BSN tengah menyusun standar.

Dengan itu, SNI dengan sejumlah penyempurnaannya akan didorong menjadi standar internasional. Standar teknis untuk tempe sendiri telah ditetapkan dalam standar Nasional Indonesia yang berlaku sejak 9 Oktober 2009, yaitu SNI 3144:2009.

Dia melanjutkan, sidang pembahasan standar tempe internasional, akan diajukan di Jepang pada pertengahan 2011. Setelah disepakati oleh negara ASIA, maka akan diteruskan ke internasional.

“Ini keuntungan buat Indonesia karena tempe akan menguntungkan bagi kita,” terangnya.

Pengakuan dunia untuk membuat standar tempe  pada Sidang 34th session of Codex Alimentarius Commission (CAC) di Jenewa 9 Juli 2011, tempe berhasil disahkan sebagai new work item di CAC.

Untuk itu, Indonesia akan memperjuangkan standarisasi tempe dalam waktu empat sampai lima tahun kedepan.

''Dalam proses pembuatan standar tempe ini kita harus bertarung dulu dan standarnya harus dicek dulu di tingkat ASEAN kemudian maju lagi di tingkat Asia, lalu ke tingkat internasional yang dibawa ke 140 negara,” urainya.

Saat ini di Indonesia terdapat sekitar 81 ribu usaha tempe, ada sekitar Rp 37 triliun nilai tambah dari usaha tempe yang memproduksi 2,4 juta ton tempe, dengan jumlah kedelai 1,8 juta ton. ''Karena satu kilogram kedelai menghasilkan 1,6 kilogram tempe,'' jelas dia.

Selain tempe, Indonesia juga diakui untuk membuat standar mie instan , sagu, dan susu fermentasi.

Berdasarkan data Primer Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Primkopti), dari 2,2 Juta ton pertahun kebutuhan kacang kedelai dalam negeri, hanya 600.000 ton saja yang mampu dipenuhi oleh petani kedelai lokal. Sementara 1,6 juta ton lainnya mesti diimpor dari Amerika Serikat.

Dari 1,6 Juta ton itu, sekitar 80% diolah untuk menjadi tempe dan tahu sementara 20% lainnya untuk penganan lain seperti susu kedelai dan lainnya. Indonesia menjadi negara pengimpor kacang kedelai terbesar dari Amerika Serikat.

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved