Semangat Belajar Anak Desa Itu Luar Biasa
Meninggalkan segala kegemerlapan ibu kota, keluarga, dan lainnya sudah menjadi konsekuensi ketika pengajar menyatakan siap
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Andrian Salam Wiyono
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mengabdikan dirinya untuk menjadi pengajar di Sekolah Dasar (SD) pelosok di Indonesia tentu bukan hal mudah. Meninggalkan segala kegemerlapan ibu kota, keluarga, dan lainnya sudah menjadi konsekuensi ketika pengajar menyatakan siap untuk ditempatkan di manapun mereka mengajar.
Salah satunya, adalah Saktiana Dwi, yang baru mengabdikan dirinya di SD 19 Limboro Kabupaten. Majene, Sulawesi Selatan. Setelah satu tahun mengajar dia menceritakan pengalamannya kepada Tribunnews, di Resto Haru Manis, Jakarta, Kamis (15/12/2011).
Dia mengaku bahwa anak-anak di pelosok itu membuatnya terharu. "Begitu semangatnya mereka belajar dengan segala keterbatasan yang ada di SD tersebut," katanya.
Ia berkisah bahwa anak SD di sana sebelum berangkat sekolah selalu menjemput gurunya pada pukul 06.00 WITA. "Sungguh hal tersebut tidak pernah saya temukan sebelumnya," ujarnya
Selain itu, Siswa-siswi di sana itu tidak berhenti untuk mau membaca buku. "Begitu antusiasnya mereka ketika saya membawa buku," ujarnya
Malam hari seusai bermain, anak-anak tersebut pun tak pernah luput dari buku agar bisa kembali mengingat pelajaran di Sekolah
Oleh karena itu, ia mengaku program yang diusung Indonesia Mengajar dan PT Kapal Api Global mengenai penyebaran 20 ribu buku untuk disalurkan ke 120 SD di pelosok Indonesi mulai dari Aceh Utara hingga Papua Barat dapat berdampak banyak terhadap perkembangan anak di pelosok.
"Pasti anak-anak itu senang sekali membaca buku barunya," jawabnya.