Aksi Bakar Diri
Sondang 'Muda' Jaga Toko Sambil Baca Buku (2)
Sondang Hutagalung semasa hidup kerap membantu orangtua dengan menjaga toko kecil untuk berjualan eceran.
Laporan Wartawan Tribunnews.com Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, BEKASI - Rumah orangtua Sondang Hutagalung, pelaku bakar diri di depan Istana Kepresidenan, memang terpencil. Jalan menuju rumahnya tidak beraspal. Rumah tersebut sederhana, cat biru yang menghiasi tembok terlihat kusam. Di depan rumah inti, keluarga Pirto membangun sebuah toko kecil untuk berjualan eceran.
"Biasanya Sondang yang menunggu toko itu, sambil baca buku, ia melayani pembeli," ujar ayah Sondang, Pirto Hutagalung mengenang.
Aktivitas Sondang menjaga toko dengan buku di tangan kini tinggal kenangan. Sondang meninggal dunia, Sabtu (10/12/2011) lalu, setelah aksi bakar diri di depan Istana Kepresidenan, Jakarta.
Hingga kini, polisi belum mengetahui motif aksi bakar diri tersebut. Namun sejumlah pemberitaan menyebut, aksi bakar diri sebagai tanda ketidakpuasan terhadap pemerintahan SBY-Boediono.
Tak hanya media lokal dan nasional, kematian Sondang juga mendapat tempat pada pemberitaan media asing. Salah satunya adalah media Israel, israelnationalnews.com.
Berbeda dengan pemberitaan media asing lain, israelnationalnews.com menayangkan tulisan berbentuk ulasan tentang aksi nekat dedengkot Himpunan Advokasi dan Studi Mahasiswa Marhaenis untuk Rakyat dan Bangsa Indonesia (Hammurabi). Pada kalimat pertama ulasan si penulis langsung menghubungkan kematian mahasiswa Universitas Bung Karno itu dengan Revolusi Jasmin atau revolusi bunga melati.
Seperti diketahui revolusi Jasmin menyulut gelombang demonstrasi besar di Tunisia yang berujung pada penggulingan pemerintahan Presiden Ben Ali yang berkuasa 23 tahun. Aksi serupa bergulir di negara-negara lain di kawasan Timur Tengah yang dikenal dengan istilah Arab Spring.
"Could an Indonesian student ignite a second "Jasmine Revolution" after immolating himself in front of the presidential palace in Jakarta?" tulis media tersebut.
Si penulis artikel menuliskan bahwa Arab Spring berimbas pada jatuhnya empat rezim yang telah berkuasa puluhan tahun di Timur Tengah dan masih bergulir hingga kini. Namun dalam tulisan itu, terdapat sanjungan atas demokratisasi di Indonesia. (Bersambung)