Bentrok di Bima
Polisi Bantah Tembak Warga Bima Pakai Peluru Tajam
Pihak kepolisian membantah membubarkan massa yang melakukan unjuk rasa di Pelabuhan Ferry Sape dengan peluru tajam.
Editor:
Ade Mayasanto

Laporan Wartawan Tribunnews.com Willy Widianto
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pihak kepolisian membantah membubarkan massa yang melakukan unjuk rasa di Pelabuhan Ferry Sape dengan peluru tajam.
"Kita dalam rangka menghadapi massa anarkis pendekatan persuasif kita imbau, kalau ada perlawanan kita pakai peluru hampa, ya pakai peluru hampa,"ujar Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol, Saud Usman Nasution saat wawancara dengan TV One, Sabtu (24/12/2011).
Menurut Saud, ada dua korban yang tewas dalam bentrokan berdarah tersebut. Dua yang meninggal dunia itu dikabarkan mengalami luka terbuka akibat benda tumpul.
"Mengecek luka tembak ke tubuh korban, hanya otopsi luar tidak ada otopsi dalam. Luka terbuka benda tumpul,"jelasnya.
Lebih jauh Saud menambahkan, dibubarkannya massa demonstran dilakukan karena sudah menganggu kepentingan umum dengan menduduki pelabuhan penyeberangan Ferry,di daerah Sape. Terlebih lagi saat ini sedang ramai jelang peringatan Natal dan Tahun Baru.
"Itu kepentingan publik, tapi kenyataannya memakai perempuan dan anak sebagai tameng, sehingga korban adalah anak-anak, semua pengunjuk rasa diangkut ke Polres banyak perlawanan, kemudian diserahkan tindakan tegas sesuai Protap 01. Tiga orang provokator HS, alias KO, SY mengamankan pengunjuk rasa 37, 25 laki-laki, 6 anak, 5 wanita dewasa,"jelas Saud.
Polisi kata Saud juga menyita 10 buah parang, sabit, tombak, bom molotov, botol berisi bensin.