Jumat, 10 April 2026

Bentrok di Bima

Satu Korban Kasus Bima Jalani Operasi Pemasangan Pen

Kemudian Saud mengungkapkan ada delapan korban luka berat yang menjalani opname di Rumah Sakit Bima

Penulis: Adi Suhendi
Editor: Yudie Thirzano

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Adi Suhendi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Satu korban dalam pembubaran aksi massa yang dilakukan polisi di Pelabuhan Sape, Bima, NTB, pada Sabtu (24/12/2011) lalu, hari ini menjalani operasi di Rumah Sakit Mataram.

"Untuk korban luka berat ada dua orang di Rumah Sakit Mataram. Satu orang diopname dan satu orang lagi hari ini dilakukan operasi pemasangan pen di kaki. Semoga sudah baik," kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution di Jakarta, Selasa (27/12/2011).

Kemudian Saud mengungkapkan ada delapan korban luka berat yang menjalani opname di Rumah Sakit Bima. "Mereka yang diopname ada yang mengalami luka terbuka luar. Sementara, korban luka ringan yang tidak dirawat inap dan hanya dikenakan berobat jalan ada 30 orang," ungkap Saud.

Sebelumnya, Sabtu (24/12/2011) aksi anarki massa pecah setelah polisi melakukan pembubaran paksa terhadap massa pengunjuk rasa dari Front Reformasi Anti-Tambang (FRAT) yang menguasai satu-satunya jembatan penyeberangan ferry dari NTB ke NTT itu sejak lima hari sebelumnya.

Polisi membubarkan paksa pengunjuk rasa setelah negosiasi dari Bupati dan Kapolda berulang-ulang menemui jalan buntu dan massa tetap menduduki pelabuhan sepanjang dua tuntutannya tak dipenuhi.

Kedua tuntutan massa tersebut adalah permintaan pencabutan Surat Keputusan Bupati Bima Nomor 188 Tahun 2010 tentang ijin operasional perusahaan tambang emas PT Sumber Mineral Nusantara (PT SMN) dan pembebasan AS, tersangka pembakaran kantor Camat Lambu yang terjadi pada 10 Maret 2011 dan telah diserahkan ke kejaksaan.

Dampak dari pembubaran paksa dari polisi itu, massa melakukan pembakaran dan perusakkan 1 kantor polres, 1 kantor polsek, rumah dinas kapolsek, 4 unit bangunan asrama polisi, kantor dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, kantor dinas kehutanan, dan Kantor Urusan Agam (KUA). Bahkan, 25 rumah warga yang diperkirakan mendukung operasional perusahaan tambang PT SMN ikut diamuk massa.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved