Mengintip Perjalanan Hidup Megawati Soekarnoputri
Pengalaman hidup Presiden Kelima RI, Megawati Soekarnoputri, dianggap menjadi cermin bagi pemimpin maupun calon pemimpin Indonesia
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengalaman hidup Presiden Kelima RI, Megawati Soekarnoputri, dianggap menjadi cermin bagi pemimpin maupun calon pemimpin Indonesia, menghadapi situasi rentan dan situasi ketidakpastian negara.
Hal ini disampaikan Wiryanti Sukamdani, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Perempuan dan Anak, dalam jumpa pers peluncuran buku 'Megawati Anak Putra Sang Fajar', di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (16/02/2012).
Yanti menjelaskan, 'Megawati Anak Sang Putra Fajar' tidak berprentensi menghadirkan karya itu sebagai buku sejarah atau otobiografi.
"Ibu Megawati tidak hanya anak biologis Bung Karno tapi juga sekaligus anak ideologis. Apalagi, ditengah kegamangan idelogis dan krisis kepemimpinan yang kering ideologi, bisa menjadi referensi," ujarnya.
Buku ini ibarat cermin bagi pembacanya, melihat perjalanan hidup serta perjuangan seorang Megawati dengan perspektif utuh, luas, serta mendalam. Integritas, ketegasan, kekokohan dan konsistensi Megawati, menjadi contoh yang positif tentang keharusan seorang pemimpin menyikapi kondisi bangsa.
"Mencontoh sikap Megawati, semakin penting melihat kondisi negara yang kian menjauh dari spirit Pancasila, Pembukaan UUD 1945, meredupnya semangat Bhinneka Tunggal Ika, dan tergerusnya kedaulatan NKRI dalam beberapa aspek. Pengalaman dan pemikiran Ibu Mega dapat dijadikan pelajaran untuk merespon situasi kebangsaan dan kenegaraan kita," tuturnya.
Yanti-lah yang mengusulkan penulisan buku Megawati. Dikatakan,awalnya penulisan itu disebabkan pertanyaan yang muncul di benaknya tentang kharisma dan aura Soekarno dalam diri Megawati.
Yanti kemudian ingin mencari tahu, sejauh mana pemikiran Soekarno hadir dalam pergulatan hidup Megawati.
"Buku ini juga berisi semacam human story. Tentang pribadi dan hidup Megawati, karena banyak yang ingin mengatahuinya," kata Yanti.
Gagasan Yanti kemudian ditindaklanjuti dengan tim penulis yang dikoordinasikan oleh wartawan senior Harian Kompas, August Parengkuan, yang juga menjadi penyunting buku ini.
Buku ini membeberkan kisah hidup Megawati termasuk saat dirinya terjun ke dalam politik. Kemudian, kepemimpinan Megawati di mata sahabatnya, alasan Megawati sering diam. Termasuk, ketika menghadapi SBY, hubungannya dengan Soekarno, hingga intisari pemikirannya.
Buku yang diluncurkan oleh Yayasan Bunga Pertiwi ini juga menuturkan pandangan sejumlah pejabat, politisi, birokrat, hingga wartawan, soal Megawati.
"Ada lebih dari 50 orang dari berbagai kalangan yang menyampaikan tuturan maupun tulisannya melalui buku ini," kata Yanti lagi.