Penangkapan Terduga Teroris

Teroris Remaja Dapat Imbalan Uang

Belakangan ini Densus 88 Antiteror Polri menangkap beberapa anggota kelompok teroris yang masih remaja.

Teroris Remaja Dapat Imbalan Uang
TRIBUN JOGJA/ADE RIZAL
Terduga teroris Joko Priyanto (baju abu-abu) ditangkap anggota Densus 88 di Jalan Flamboyan Dalam, Purwosari, Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Minggu (23/09/2012).

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Belakangan ini Densus 88 Antiteror Polri menangkap beberapa anggota kelompok teroris yang masih remaja. Itu terlihat dari penangkapan pelaku teror Farhan Cs dan jaringan Alqaeda Indonesia.

Jaringan Alqaeda Indonesia ternyata memiliki keterkaitan dengan pentolan teroris Noordin M Top, di mana ada nama Joko Parkit yang pernah dihukum tiga tahun dalam kasus terorisme, karena menyembunyikan pelaku bom Bali, Noordin M Top.

Ada juga nama Baderi Hartono, yang memiliki keterkaitan dengan Noordin M Top. Ia merupakan pengikut pentolan teroris yang tewas ditembak petugas pada 2003.

Begitu juga dengan Farhan Cs. Ternyata, Farhan merupakan anak tiri dari Abu Omar, seorang teroris yang menjadi pemasok senjata dari Filipina.

"Kalau kita lihat, mereka sebenarnya sudah pernah kenal, apa kaitan di Poso, apa kaitan pengalaman di daerah konflik. Kegiatan ini (teroris) dasarnya kepercayaan. Ada saling kenal. Karena kan memiliki satu kesamaan visi dan misi," ungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (25/9/2012).

Karena gencarnya penangkapan anggota kelompok teroris di Indonesia yang dilakukan Polri, akhirnya orang-orang yang masih bebas berkeliaran karena belum tertangkap, menyebarkan pahamnya dan mengajak orang lain untuk bergabung dengan kelompoknya.

Semakin lama, kelompok teroris semakin kecil, kemudian kelompok satu dan lainnya bersatu, dan mereka pun aktif merekrut orang baru, di antaranya remaja.

"Melihat kondisi masing-masing berkurang personel karena penegakan hukum, mereka yang belum terjaring bersatu," jelas Boy.

Menurut Boy, ada beberapa hal yang membuat orang tertarik dengan jaringan teroris, di antaranya adalah pemberian sejumlah uang untuk orang yang mau melakukan aksi teror. Tapi, tidak jelas apakah sasaran yang direkrut orang awam atau pintar.

"Ini sesuatu hal yang perlu dikaji. Apakah (masalah) ekonomi atau semangat perjuangannya sama. Kami belum yakin, mereka yang terpengaruh memiliki spirit ideologi sama. Dari hasil pemeriksaan, sepertinya ada suatu imbalan-imbalan yang mereka terima," terang Boy. (*)

BACA JUGA

Penulis: Adi Suhendi
Editor: Yaspen Martinus
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved