Tawuran Pelajar

Razia Pelajar yang Bergerombol Harus Ditingkatkan

Razia pelajar yang kerap bergerombol dan membawa senjata tajam harus sering dilakukan aparat keamanan

Razia Pelajar yang Bergerombol Harus Ditingkatkan
KOMPAS.com/VITALIS YOGI TRISNA
Sepatu dan ikat pinggang milik korban yang masih tertinggal di lokasi terjadinya perkelahian antarpelajar di Manggarai, Jakarta Selatan, Rabu (26/9/2012). Tawuran yang melibatkan pelajar dari sekolah Kartika Zeni dengan Yayasan Karya 66 ini membuat satu orang pelajar tewas dan dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNA

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Razia pelajar yang kerap bergerombol dan membawa senjata tajam harus sering dilakukan aparat keamanan dalam hal ini kepolisian. Tindakan tersebut dilakukan menyusul maraknya tawuran pelajar yang merenggut korban jiwa.

"Razia terhadap kelompok pelajar yang bergerombol dan membawa senjata tajam perlu lebih ditingkatkan, " kata Politisi Partai Golkar, Ahmed Zaki Iskandar di Jakarta, Kamis(27/9/2012).

Zaki juga mengaku prihatin tawuran yang melibatkan pelajar marak di Jakarta. Terlebih lagi beberapa waktu lalu Alawi Yulianto Putra(19) siswa SMAN 6, tewas digeruduk sekelompok siswa SMAN 70, dan Deni Yanuar(17) pelajar kelas  XII SMA Yayasan Karya juga meregang nyawa.

Deni, anak pasangan Slamet dan Suyanti, menjadi korban setelah terlibat tawuran dengan kelompok pelajar dari Sekolah Menengah Kejuruan Kartika Zaini di Jalan Minangkabau, Manggarai Jakarta Selatan. Deni terkena sabetan celurit di dada sebelah kiri.

Zaki pun merasa heran mengapa banyak pelajar saat sekolah justru membawa banyak senjata tajam seperti clurit, klewang bahkan gir motor bergerigi.

"Bukankah barang-barang tersebut tidak ada kaitannya dengan  pelajaran mereka, " ujar Zaki.

Melihat hal seperti itu, Ketua DPD Golkar Kabupaten Tangerang ini meminta mereka yang terlibat dalam kriminalitas dan terbukti  bersalah harus dihukum. Meskipun mereka anak-anak hukum harus ditegakkan. Apabila hal ini tidak dilakukan. Bukan tidak mungkin kejadian semacam ini akan terulang dan menyebar karena muncul asumsi bahwa hukuman yang diberikan ringan.

Penyelesaian tawuran pelajar, tambah Zaki, tidak hanya urusan sekolah. Dalam hal ini, sekolah harus dibantu karena menerima beban luar biasa tidak hanya mendidik, tetapi juga mengubah perilaku sosial siswa yang berat. Menurutnya sekolah tidak bisa langsung dipersalahkan karena terkadang, saat masuk sekolah, anak sudah membawa beban sosial yang luar biasa berat.

Untuk itu, Zaki menyarankan keterlibatan para orang tua murid  dalam mendidik anak-anaknya juga  harus ditingkatkan. Sebaiknya, para orang tua mengawasi juga perilaku dan perkembangan anak-anak mereka setiap harinya.

"Jangan sampai sepenuhnya diserahkan ke sekolah karena sekolah juga punya keterbatasan," kata Zaki.

Berita Terkait: Tawuran Pelajar

Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved