Jumat, 29 Agustus 2025

Intoleransi

Wakil Ketua MPR Tidak Lihat Masyarakat Intoleran

Lingkaran Survei Indonesia Community merilis hasil survei yang mengagetkan terkait intoleransi dan diskriminasi di Indonesia. Kenaikannya dari

Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-inlihat foto Wakil Ketua MPR Tidak Lihat Masyarakat Intoleran
/TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO
Wakil Ketua MPR RI Hajriyanto Y Thohari

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lingkaran Survei Indonesia Community merilis hasil survei yang mengagetkan terkait intoleransi dan diskriminasi di Indonesia. Kenaikannya dari survei 2005 ke 2012 di angka 6,9 persen.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua MPR Hajriyanto Thohari  mempertanyakan metodologi survei itu, terutama dalam menyusun struktur pertanyaan.

"Saya tidak melihat masyarakat Indonesia makin tidak toleran. Masyarakat nyaman-nyaman saja punya tetangga beragama lain," kata Hajriyanto di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (22/10/2012).

Politisi Golkar itu menduga pengakuan ketidaknyamanan itu lebih terkait pada perbedaan kebiasaan gaya hidup saja, bukan pada soal perbedaan agama.

Ia mencontohkan soal kebiasaan memelihara anjing atau babi, soal bunyi adzan dengan soundsystem yang terlalu keras dan lainnya yang menyangkut kebiasaan hidup bertetangga.

"Saya pernah hidup di tengah-tengah masyarakat dengan fakta seperti ini, orang Kristen bukannya tidak nyaman punya tetangga Islam, tapi merasa tidak nyaman saja di pagi-pagi buta dibangunkan suara adzan dari masjid dengan pengeras suara," katanya.

"Sedangkan Orang Islam merasa tidak nyaman karena tetangganya yang Kristen memelihara anjing atau bahkan babi, dan lain-lain. Jadi tidak nyaman bukan karena soal agamanya tetangga berbeda, tapi soal kebiasaan hidup sehari-hari saja," sambungnya.

Untuk itu, Hajriyanto mengatakan persoalan yang kini dihadapi adalah bagaimana antar tetangga mau menyesuaikan kebiasaannya dalam hidup sehari-hari sehingga tetangganya nyaman.

"Jika tahu tetangganya tidak nyaman dengan anjing dan gonggongannya di malam hari ya jangan piara anjing lah. Apalagi anjingnya dilepas secara bebas lagi," katanya lagi.

Sementara, Sekretaris Fraksi Hanura, Saleh Husin kurang sependapat dengan survei tersebut. "Mungkin ada benarnya tapi saya kira enggak sebesar itu, paling itu terjadi di wilayah-wilayah tertentu, untuk itu kita tidak memperbesar masalah itu," katanya.

Menurut Saleh, bila masyarakat telah hidup dengan toleransi yang baik, maka dapat memberikan contoh kepada yang lainnya.

"Saya kira pendidikan budi pekerti harus ditanamkan sejak dini pada sekolah dasar. Nilai-nilai luhur pancasila sudah mulai luntur pada generasi muda kita. Disinilah peran pemerintah untuk terus mensosialisasikan nilai-nilai tersebut," katanya.

Sebelumnya, berdasarkan survei LSI Community, meningkatnya sikap intoleransi terhadap perbedaan identitas publik Indonesia semakin mengkhawatirkan karena 15-80 persen merasa tidak nyaman hidup berdampingan dengan orang berbeda identitas.

Sebesar 41,8 persen publik Indonesia merasa tak nyaman hidup berdampingan dengan orang Syiah, 46,6 persen tak nyaman bertetangga dengan orang Ahmadiyah, 80,6 persen publik tak nyaman hidup berdampingan dengan orang yang berhubungan sesama jenis, dan 15,1 persen tak nyaman hidup berdampingan dengan tetangga berbeda agama.

Klik:

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan