Sulit Bermain Kasus, Hakim Mulai Keluhkan Pendapatan
Hakim-hakim nakal biasanya mendapatkan penghasilan sampingan dari sejumlah perkara yang ditanganinya
Laporan wartawan tribunnews.com : Adi Suhendi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Hakim-hakim nakal biasanya mendapatkan penghasilan sampingan dari sejumlah perkara yang ditanganinya, tetapi dengan diperketatnya pengawasan yang dilakukan Komisi Yudisial (KY) kini hakim nakal mulai berhati-hati.
"Ada hakim yang mulai mengeluh pendapatan. Ini berarti mereka sudah tidak bisa neko-neko," ucap Komisioner Komisi Yudisial (KY) Jaja Ahmad Jayus di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (22/12/2012).
Jelas Jaja kepada Tribunnews.com bersama wartawan lainnya, keadaan seperti itu menunjukan adanya perubahan budaya. Sehingga ke depan adalah bagaimana membangun suatu peraturan yang konkret dimana setiap pelanggarnya harus dihukum.
Dengan berkurangnya pendapatan dari uang-uang yang tidak halal, para hakim yang kini berada di daerah mulai gelisah, mereka banyak yang lebih memilih dekat dengan keluarganya dibandingkan tugas yang diberikan kepada mereka.
"Kalau ditanya (ingin pindah) tentu mereka jawab ingin pindah supaya dekat dengan keluarga. Tapi tugas hakim kan diseluruh Indonesia," ucapnya.
Untuk itu, kesejahtraan hakim pun akan diperbaiki supaya hakim-hakim tetap nyaman bertugas di daerah.
"Mudah-mudahan Januari 2013 sudah cair, belum lagi yang ditempatkan jauh dan terpencil akan ada tunjangan kemahalan. Tunjangan daerah bisa sampai Rp 10 juta tergantung daerahnya sepreti Fak-Fak. Kalau pulau jawa, tidak ada tunjangan kemahalan," ujarnya.