Ujian Nasional
Api tak Mampu Hanguskan Semangat Mereka
Apa yang dialami Ega, tak jauh beda dengan Mohamad Ferdiyansyah (12), siswa kelas VI SDN 09 Bukit Duri, Jakarta Selatan.
Laporan Wartawan Warta Kota, Budi Sam Law Malau
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Apa yang dialami Ega, tak jauh beda dengan Mohamad Ferdiyansyah (12), siswa kelas VI SDN 09 Bukit Duri, Jakarta Selatan.
Rumah yang ditempati Ferdiyansyah yang akrab disapa Ferdi di RW 03, Kelurahan Kampung Melayu, Jatinegara, juga ludes dilalap api, Minggu (5/5/2013) sore. Saat itupun, tangis Ferdi pecah menyaksikan rumahnya dilalap api.
"Saya nangis, soalnya buku pelajaran, tas, sama mainan saya kebakar semua," kata Ferdi saat ditemui Warta Kota (Tribunnews.com Network), Senin (6/5/2013) sore.
Ferdi yang mengaku sempat kaget, akhirnya mendapat bantuan baju seragam, tas, dan sepatu sekolah dari penyumbang.
"Dikasih sama orang yang nyumbang. Katanya buat sekolah," ucap Ferdi.
Ferdi pun mengaku bisa menjawab soal UN Bahasa Indonesia, Senin pagi. Padahal, ia tidak memiliki kesempatan belajar karena tinggal di Pokso Pengungsian di Bukit Duri.
"Di Posko enggak akan bisa belajar. Lagian, bukunya enggak ada," ujar Ferdi tersenyum.
Anak bungsu dari lima bersaudara yang sejak lima tahun lalu menjadi piatu, mengaku tak kesulitan menjawab soal UN SD mata pelajaran Bahasa Indonesia, Senin pagi.
"Rahasianya, tinggal dibaca aja soalnya, lalu dijawab," cetusnya.
Ayah Ferdi, Hanafi (40), hanyalah pekerja serabutan. Walau begitu, sejak kelas I SD, Ferdi dikenal selalu mendapat ranking di kelasnya. Semester terakhir lalu, Ferdi masuk ranking III di sekolahnya.
Karena itu, untuk menghadapi UN mata pelajaran Matematika, Selasa (7/5/2013), Ferdi mengaku yakin bisa. Sebab, Matematika adalah salah satu kesukaannya.
"Senang aja sama matematika," kata Ferdi.
Ketika ditanya soal cita-citanya, Ferdi menjawab mantap ingin menjadi dokter. Alasannya, supaya dapat menyembuhkan banyak orang sakit. Sebab, dari apa yang didengarnya delapan tahun lalu, atau saat Ferdi berusia empat tahun, ibunya meninggal dunia karena sakit.
"Mau jadi dokter, supaya bisa nyembuhin banyak orang sakit," tuturnya mantap.
Lita (33), bibi Ferdi mengatakan, sejak kelas I SD, Ferdi selalu juara di kelasnya.
"Sekarang aja ranking III, kalau dulu, dia selalu juara I. Dia anaknya pintar," jelas Lita kepada Warta Kota.
Karena itu, Lita tak khawatir jika Ferdi tidak bisa belajar dalam menghadapi UN kali ini.
"Habis mau belajar di mana? Di posko pengungsian enggak mungkin. Buku-buku juga enggak ada. Tapi, anaknya bilang, enggak usah belajar kalau memang enggak ada buku dan tempat. Dia yakin bisa," papar Lita.
Tanpa Seragam
Kondisi serupa dialami Egis Santika (11), murid kelas VI SD 10 Petang Bukit Duri. Perlengkapan sekolah mulai dari alat tulis hingga seragam yang sudah dipersiapkan orangtuanya, Lita Pandiari (42) dan Urip Hermansyah (41), turut dilahap si jago merah.
Beruntung, pihak sekolah mengerti kondisi anak didiknya. Tanpa mengenakan seragam, pihak sekolah memerkenankan mereka turut mengikuti ujian.
"Tapi tadi anaknya sempat nangis, karena malu enggak pakai seragam, walaupun pihak sekolah sudah siapkan seragam di sekolah. Akhirnya, tadi pinjam dulu dari teman-temannya," ungkap Lita Pandiari (42), ibu Egis.
Lita berharap, anak keduanya tidak terpengaruh dengan peristiwa yang menyebabkan rumah tiga lantainya di RT 15/03, Kelurahan Kampung Melayu ludes terbakar. Ia berharap sang anak tetap mengikuti ujian dengan baik, dan dapat melanjutkan pendidikannya ke SMPN 26, seperti yang dicita-citakannya.
"Dari Kelas I sampai pembagian rapot terakhir kemarin, Egis masuk peringkat 10 besar di kelas. Insya Allah bisa lulus dan masuk SMP 26, walaupun tadi masih terlihat shock," beber Lita. (*)