Insinyur Indonesia Harus Siap Hadapi Invasi Asing
KEA yang akan diberlakukan pada 2015, akan menjadi momok menakutkan bila Indonesia tidak lebih matang menyiapkan diri.
Ketua Umum PII melanjutkan, Indonesia harus menambah sedikitnya 175 ribu sarjana tekhnik per tahun pada 2025, jika ingin mencapai PDB per kapita 20.600–25.900 doalr AS.
Jumlah insinyur Indonesia saat ini masih sangat kurang atau sedikit dibandingkan negara lain di kawasan Asia.
"Kita hanya punya 164 orang insinyur per satu juta penduduk. Yang mengkhawatirkan, akhir-akhir ini minat para siswa lulusan sekolah lanjutan atau SMU untuk meneruskan pendidikan sampai menjadi insinyur, kelihatan sekali menurun. Kita hanya punya 11 persen atau 1,05 juta dari total sarjana. Yang ideal adalah 20 persen dari seluruh sarjana," urai Bobby mengutip data yang dilansir Hatta Rajasa.
Bobby membandingkan kondisi aktual yang ada di Malaysia. Di negara tersebut, rasio antara insinyur dan seluruh sarjana lulusan perguruan tinggi, mencapai 50 persen.
"Malaysia sekarang punya 13 juta sarjana teknik, dari total 27 juta penduduknya," ucap Bobby.
Sejumlah perusahaan konstruksi dan rekayasa di Indonesia, telah memutuskan mengimpor tenaga insinyur. Sebuah perusahaan kontraktor dan engineering di bilangan Jakarta Selatan misalnya, telah melakukan hal itu. Pimpinan perusahaan tersebut belum lama ini di Jakarta mengatakan, bahwa perusahaannya kini sudah sangat merasakan kekurangan tenaga insinyur berpengalaman.
"Kami terpaksa harus mengimpor insinyur. Ada yang dari Filipina, India, Australia, Amerika Serikat, dan Inggris," ungkapnya. (*)