Kamis, 16 April 2026

Penghargaan untuk SBY Apresiasi Dunia bagi Kerukunan Beragama

Penghargaan dari Appeal of Conscience Foundation (ACF), sebuah organisasi yang mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, dan dialog

Penulis: Johnson Simanjuntak

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penghargaan dari Appeal of Conscience Foundation (ACF), sebuah  organisasi yang mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, dan dialog antarkepercayaan yang berbasis di New York, Amerika Serikat, kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai negarawan dunia 2013 (World Statesman Award)  adalah merupakan wujud apresiasi dunia terhadap kerukunan umat beragama di Indonesia.

"Apalagi penghargaan itu bukan diminta, tapi mereka yang memberikan karena melihat fakta-fakta di Tanah Air," kata intelektual Islam yang juga Sekjen Alumni Al-Azhar Indonesia, Dr. Muchlis Hanafi dan Wakil Ketua MPR Melani Leimena Suharli, Minggu (26/5/2013), terkait masalah toleransi yang kini ramai diperbincangkan, karena adanya pengharagaan pada SBY dari ACF di New York, AS yang akan diberikan pada akhir Mei ini.

Sebagai pemimpin negara yang majemuk, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sangat menghargai perbedaan dan menghormati kehidupan antaragama dan antarumat beragama. Sangat tidak tepat apabila masyarakat menilai selama ini Indonesia membiarkan intoleransi. Bahkan negara meliburkan setiap hari raya umat beragama untuk membuktikan komitmen penghormatan dan toleranasi kehidupan beragam itu.

Menurut Muchlis, sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, SBY telah berhasil menjaga keragaman kehidupan yang majemuk di Tanah Air, baik dari segi agama, suku, dan etnik, dalam bingkai NKRI.

“Sangat wajar bila pemimpin negeri ini mendapat penghargaan. Saya sangat mendukung itu. Sebab itu menunjukkan karakter ajaran islam yang dianut oleh mayoritas warganegara Indonesia,” kata Muchlis yang juga Kepala Bidang Pengkajian al-Qur`an Kemeng.

Sebagai warganegara Indonesia, tegas Muchlis, kita menyayangkan sikap mereka yang menentang pemberian penghargaan, bahkan mengkampanyekan menolaknya, sebab sudah semestinya kita mengedepankan nasionalisme kita di mata dunia internasional.

Sementara itu Wakil Ketua MPR Melani Suharli menegaskan, kehidupan beragama yang sangat toleran benar-benar dilaksanakan di Tanah Air. Pemerintah dan negara pun mengakui ini dengan meresmikan hari-hari besar keagamaan sebagai hari libur. Bahkan Presiden SBY sering menghadiri perayaan semua agama di Indonesia.

Melani memberikan contoh nyata betapa kehidupan keagamaan yang  toleran sungguh dipraktikkan di Indonesia. Ketika penyelenggaraan Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) tingkat nasional di Ambon, Maluku pada September 2011, panitia pelaksana terdiri atas umat Islam dan Kristen.

“Yang saya terharu, sekitar 200 pendeta, menyediakan rumahnya bagi para delegasi dari berbagai daerah yang mengikuti MTQ. Apa bukti ini kurang? Belum lagi yang lain,” kata Melani.

Menyinggung adanya beberapa peristiwa yang mencederai kehidupan yang toleran, baik Melani Suharli maupun Muchlis Hanafi mengatakan bahwa hal itu peristiwa yang kasuistis dan tidak bisa disebut Indonesia negara yang tidak toleran, karena bukan fenomena yang menggambarkan intoleransi.

Menurut Melani, ketika terjadi intoleransi di daerah, Presiden SBY telah memerintahkan kepala daerah dan aparat untuk menyelesaikannya, dan bukan membiarkan. Dengan begitu sangat keliru mereka yang menyimpulkan pemerintahan SBY tidak berbuat banyak bagi kehidupan yang toleran.

Karena itu  Muchlis Hanafi mengatakan, upaya-upaya menjaga kerukunan tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi oleh seluruh lapisan masyarakat.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved