Breaking News:

Bentrok Massa dan Ormas di Kendal

Politisi Gerindra: FPI Perlu Tahan Diri Selama Ramadan

Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Martin Hutabarat menyesalkan adanya kerusuhan antara FPI dengan warga Kendal

TRIBUN JATENG SAMBUL HADI
24 Anggota FPI Dipulangkan Naik Dua Mini Bus 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Martin Hutabarat menyesalkan adanya kerusuhan antara FPI dengan warga Kendal. Dalam bentrokan tersebut dikabarkan seorang tewas.

"FPI perlu belajar menahan diri dalam melakukan suatu kegiatan, khususnya dalam bulan Ramadan ini agar tidak menimbulkan kejengkelan masyarakat," ujar Martin melalui pesan singkat, Jumat (19/7/2013).

Ia mengatakan masyarakat saat ini sudah semakin berani melawan tindakan-tindakan kekerasan yang dianggap bisa menimbulkan anarki dan mengganggu pada rasa aman dan damai.

"Polri kita harap menindakinya secara professional dan tidak merasa gamang untuk bertindak menjaga keamanan," imbuhnya.

Dengan berlakunya UU Ormas, kata Politisi Gerindra itu, ia berharap agar pemerintah bisa lebih percaya diri untuk mengambil tindakan tegas terhadap siapapun yang mengganggu keamanan dan ketentraman masyarakat.

Sebelumnya,  Kepolisian Resor Kendal, Jawa Tengah telah menetapkan sopir mobil Avanza dari massa Front Pembela Islam (FPI) sebagai tersangka. Mobil ini menabrak pengendara sepeda motor sampai tewas, dan insiden tersebut memicu bentrok dengan warga Sukorejo, Kendal, Kamis (18/7/2013) petang.

"Sopir mobil menjadi tersangka karena menabrak orang hingga meninggal dunia," kata Kapolres Kendal AKBP Asep Jenal, Kamis malam. Mobil Avanza bernomor polisi AB 7105 SA itu menabrak sepeda motor bernomor H 6088 ND yang dikendarai Tri Munarti dan Suyatmi.

Dalam kecelakaan itu, Tri meninggal dunia, sedangkan Suyatmi masih dirawat di rumah sakit. Insiden ini memicu kemarahan warga Sukorejo, yang sebelumnya juga sudah terlibat bentrok kecil dengan massa FPI terkait sweeping tempat hiburan di kecamatan tersebut.

Asep menambahkan, polisi juga terus mendalami alasan kedatangan massa FPI ke Sukorejo pada hari itu. Dia pun menegaskan, sweeping yang dilakukan sehari sebelumnya oleh FPI juga tak bisa dibenarkan. Sebaliknya, tindakan main hakim warga terhadap kecelakaan lalu lintas yang melibatkan mobil massa FPI juga tak bisa dibenarkan.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved