Rusuh di Gedung MK

Hakim MK Harus Dikocok Ulang

Anggota Komisi III DPR Eva Kusuma Sundari mengaku prihatin dengan kericuhan yang terjadi di MK.

 Hakim MK Harus Dikocok Ulang
WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Polisi mengambil gambar lobi gedung Mahkamah Konstitusi usai rusuh saat sidang putusan sengketa ulang Pemilukada Maluku, Jakarta Pusat, Kamis (14/11/2013). Massa yang mengamuk membalikan kursi di dalam dan luar ruang sidang serta memecahkan sejumlah layar televisi. (WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi III DPR Eva Kusuma Sundari mengaku prihatin dengan kericuhan yang terjadi di Mahkamah Konstitusi (MK). Menurutnya, MK sudah kehilangan wibawa sejak skandal Akil Mochtar.

"Sayangnya tidak ada terobosan oleh MK untuk kompensasi tingkat kepercayaan masyarakat yang drop tersebut sehingga kewibawaan belum dipulihkan," kata Eva ketika dikonfirmasi, Jumat (15/11/2013).

Eva juga menilai pernyataan Ketua MK Hamdan Zoelva tidak menyiratkan kenegarawanan. Hal itu terkait putusan MK soal Pilkada Bali yang tidak sejalan dengan nilai-nilai demokrasi universal dimana satu orang satu suara sehingga menyiratkan kepentingan partisan yang kental.

"Legitimasi yang rendah itu yang menyebabkan masyarakat berperilaku anarkis yang tergolong pelecehan pengadilan (contempt of court) , dan ini tragedi bagi seluruh masyarakat," katanya.

Politisi PDI Perjuangan itu menegaskan pelaku kericuhan harus dipidanakan. Tetapi pembenahan politik juga harus dilakukan.    "MK harus dikocok ulang sehingga para hakim baru terpilih, yang tidak kena dosa kolektif akibat membenarkan putusan-putusan yang tidak akuntabel jaman ketua lama Akil Mochtar," ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan massa yang diduga dari salah satu satu pendukung calon Gubernur Maluku mengamuk dan berbuat rusuh di ruang sidang Mahkamah Konstitusi (MK) di Jakarta.

Saat itu, hakim MK tengah membacakan putusan pada sidang sengketa Pemilukada Provinsi Maluku. Tiba-tiba,  sekitar 30-an orang yang marah karena tidak puas dengan putusan tersebut berteriak-teriak dan maju ke depan sambil membanting meja-kursi di ruang sidang. Tidak berhenti sampai disitu,  massa juga memecahkan kaca dan TV LCD yang berada dalam ruangan tersebut.

Penulis: Ferdinand Waskita
Editor: Gusti Sawabi
Sumber: TribunJakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved