TKI di Taiwan Alami Koma Akibat Disiksa Majikan
Sihatul berangkat ke Taiwan pada tahun 2012. Ia TKI yang menempuh jalur legal melalui PT Sinergi Binakarya
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kasus kekerasan terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kembali terjadi. Sihatul Alfiah (27) seorang buruh migran di Taiwan yang berasal dari desa Plampangrejo, Banyuwangi, Jawa Timur mengalami siksaan dari majikannya.
"Sihatul berangkat ke Taiwan pada tahun 2012. Ia TKI yang menempuh jalur legal melalui PT Sinergi Binakarya, Malang. Kontrak kerja yang disepakati dan ditandatangani merawat orangtua," kata Anggota Komisi IX DPR Rieke Dyah Pitaloka dalam jumpa pers di Gedung DPR, Jakarta, Senin (27/1/2014).
Rieke menceritakan setelah sampai di Taiwan, Sihatul justru diperkerjakan sebagai pemerah dan pembersih kandang sapi di Liouying, Distrik Yainan City. Sihatul harus memerah dan membersihkan 300 sapi. "Ia tidur di dekat kandang sapi," imbuhnya.
Selain itu, Sihatul juga menerima siksaan dari majikannya Huan Den Jin. Pada tanggal 21 September 2013, Sihatul dipukul dengan benda tumpul oleh majikannya hingga tak sadarkan diri. Ia dibawa ke UGD RS Chi Mei Medical Centre di Liouying. "Hasil diagnosa resmi membuktikan terjadi luka di bagian belakang kepala akibat pukulan menggunakan benda tumpul, Sihatul, koma selama satu bulan di rumah sakit," kata Politisi PDIP itu.
Rieke mengatakan hingga saat ini tidak ada sanksi kepada majikan. Majikan hanya dikenai biaya pengobatan selama di rumah sakit. Selain itu selama bekerja selama 13 bulan di Taiwan, Sihatul baru menerima tiga kali gaji senilai Rp6.900.000.
Rieke pun meminta agar Pemerintah SBY melakukan langkah-langkah politik terkait kasus yang menimpa Sihatul. "Tak cukup hanya lembaga terkait lakukan mediasi dengan majikan yang berujung sekedar penggantian biaya rumah sakit. Pak SBY, Sihatul tak mungkin bapak telepon karena ia tidak bisa bicara, teleponlah pemerintah Taiwan," katanya.
Sementara suami Sihatul, Suhendi mengharapkan istrinya sembuh seperti sedia kala serta mendapatkan haknya selama bekernya. "Saya ingin bertemu istri saya," katanya.
Sedangkan Direktur Eksekutif Migran Care Anis Hidayah mengaku sempat mendapatkan informasi dari Kementerian Luar Negeri bahwa Sifatul berada di Jakarta dalam kondisi baik. Padahal Sihatul berasal dari Banyuwangi Jawa Timur.
"Kemenlu harus mengklarifikasi stetemen yang dikeluarkan bahwa Sihatul baik. Kalau begitu dipertemukan dengan suaminya," ujarnya.