Breaking News:

Hatta Rajasa: Silakan Jeruk China Masuk, Saya Tetap Makan Jeruk Pontianak

Hatta Rajasa menjelaskan, Indonesia tak bisa lagi membendung globalisasi. Kata Hatta, Indonesia butuh nasionalisme baru

Tribunnews/DANY PERMANA
Ketua Partai Amanat Nasional (PAN), Hatta Rajasa (dua kanan) meluncurkan media partai, kabar8.net, di Kantor DPP PAN, Jakarta Selatan, Rabu (8/1/2014). Portal media tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan komunikasi untuk penyampaian visi misi partai kepada publik. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA) 

TRIBUNNEWS.COM, BEKASI - Indonesia harus membangun nasionalisme baru untuk mencegah unsur-unsur anasir buruk dari globalisasi.  Satu di antara langkah yang bisa ditempuh adalah menciptakan produk berdaya saing tinggi sehingga bisa berkompetisi dengan produk impor.

Demikian siratan yang bisa diambil dari ujaran Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa dalam dialog kebangsaan bertema “Daya Saing Bangsa prospektif Ekonomi Digital dan Hegemoni Politik Dalam Era ASEAN Community 2015”

“Kita tidak bisa lagi melarang jeruk China. Begitu kita larang jeruk China masuk maka Chinapun akan melarang sawit Indonesia masuk China. Akan ada trade off di situ. Tetapi yang bisa menahan itu adalah nasionalisme kita. Silakan jeruk China masuk, saya tetap makan jeruk Pontianak,” ujar Hatta di Bekasi, Minggu (23/2/2014) kemarin.

Yang dimaksud Hatta dengan nasionalis baru ini katanya adalah kecintaan terhadap tanah air. Apalagi, para founding fathers bangsa mengajarkan bahwa nasionalisme Indonesia  bukanlah narrow nationalism, bukan pula chauvinism.

“Kita tidak takut bersaing dengan bangsa lain, tapi juga menghindari kesombongan berlebih,” jelasnya.

Dalam konteks kekinian lanjutnya nasionalisme yang dibutuhkan adalah smart nationalism atau nasionalisme yang cerdas.

“Xenophobia bukanlah pilihan, karena kita hidup di dunia yang makin menyatu. Bila negara lain bisa mengekspor produk, teknologi hingga budayanya, kita pun harus melakukannya.  Saya melihat bangsa Indonesia punya kapasitas untuk itu, karena sebagai bangsa besar kita memiliki semuanya,” ujarnya.

Dia menjelaskan, memasuki ASEAN Economic Community (AEC) 2015, Indonesia harus bisa mendorong produk yang kompetitif. Melalui AEC 2015, jelasnya, ASEAN akan menjadi pasar tunggal yang berdaya saing tinggi. Sehingga, jika produk lokal tidak mampu bersaing, Indonesia hanya akan menjadi market based.  

“Ini pekerjaan rumah. Jika tidak, maka kita akan gagal. Untuk memenangkan persaingan segalanya harus dipersiapkan khususnya infrastruktur, sehingga mampu menjadikan Indonesia sebagai production based,” ujarnya.

Hatta optimistis, lewat segala persiapan yang dilakukan, Indonesia mampu meningkatkan volume perdagangan hingga dua kali lipat. Jika 2013 ekspor Indonesia menyentuh angka USD 180 miliar, maka dengan AEC 2015 bisa diangka USD 400 miliar.

Halaman
12
Berita Populer
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved