Polri Vs KPK

Jokowi Bukan Pemain Utama, Cuma Kasih Stempel, Lalu Siapa yang Bisiki Presiden?

"Ternyata Presiden Jokowi juga nggak bisa mainkan emosi publik jadi kebijakan publik. Dia hanya mengandalkan popularitas dirinya saja," kata Haris.

Jokowi Bukan Pemain Utama, Cuma Kasih Stempel, Lalu Siapa yang Bisiki Presiden?
Warta Kota/Alex Suban
Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Jaksa Agung, HM Prasetyo, dan Wakapolri, Komjen Pol Badrodin Haiti (depan, kiri ke kanan) memberikan penjelasan tentang sikap pemerintah terkait penangkapan Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto oleh Bareskrim Polri, di teras Istana Bogor, Bogor, Jawa Barat, Jumat (23/1/2015). Presiden meminta pada institusi Polri dan KPK untuk memastikan bahwa proses hukum yang ada harus objektif dan sesuai dengan aturan UU yang ada. (Warta Kota/Alex Suban) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Randa Rinaldi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kekisruhan dua lembaga negara yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri, pada akhir-akhir ini sangat menyita perhatian publik.

Koordinator Koalisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Haris Azhar mengatakan Presiden Joko Widodo tidak tegas dalam penangganan kasus Polri-KPK.

"Presiden Jokowi bukan pemain utama, dia hanya pembawa cap, pemberi stempel, lalu siapa yang bawa proposal, yang mempengaruhi Jokowi?" ujar Haris dalam diskusi di Jalan Sabang, Menteng, Jakarta, Minggu (25/1/2015).

Haris menuturkan, Jokowi bukan lagi petinggi partai dan ia seharusnya tegas dalam menentukan kebijakan. Bahkan, ia menilai Jokowi hanya mampu memanfaatkan popularitas tanpa bisa memainkan emosinya dalam menentukan kebijakan yang harus diambil. Namun, realitanya program Nawa Cita yang dibanggakan Jokowi dipotong-potong kelompok lain.

"Ternyata Presiden Jokowi juga nggak bisa mainkan emosi publik jadi kebijakan publik. Dia hanya mengandalkan popularitas dirinya saja," kata Haris.

Haris juga menyatakan penyataan Presiden Joko Widodo dalam konflik Polri dan KPK dinilai tidak berisi dan tidak bisa memecahkan masalah yang terjadi.

"Jawaban Jokowi di Istana Bogor menggambarkan kualitasnya. Cara dia mengetahui masalah atau dia memecahkan masalah. Situasi yang sudah genting gini statement dia cuma gitu, ngggak paham atau nggak berani?" kata Haris.

Penulis: Randa Rinaldi
Editor: Agung Budi Santoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved