Advertorial
Melirik Warna-Warni Dimensi Logo Konferensi Asia Afrika
Warna bukan hanya penambah semarak pandangan mata. Di tangan desainer, warna seringkali menjelma makna. Hal itu berlaku pula bagi logo KAA ke-60
TRIBUNNEWS.COM – Konferensi Asia Afrika 2015 akan digelar 19-24 April 2015 mendatang. Berbagai negara dipastikan akan menghadiri pertemuan yang dipastikan menyedot perhatian besar dunia itu.
Namun, di balik itu semua, terdapat dimensi lain yang cukup menarik diperhatikan, yakni logo KAA yang dimunculkan. Apa makna yang terkandung di balik warna dan desain logo tersebut?
Menurut salah seorang konseptor pembuat logo, Muhammad Yahya, pihaknya menekankan unsur kekinian yang sedang dihadapi bangsa Asia Afrika saat ini. Unsur dan aroma politik berupaya diminimalisir dari desain logo. Yahya dan kawannya lebih menekankan hal yang sederhana, mudah dipahami, namun tidak mengurangi semangat KAA.
Jika dilihat lebih jauh, logo KAA kali ini memang lebih dinamis dibanding logo-logo KAA sebelumnya. Hal itu terlihat dari dua buah huruf ‘a’ kecil yang berwarna merah dan hijau. Jika digabungkan, akan terlihat garis relevansi di antara keduanya, kedua huruf ‘a’ tersebut jika digabung menjadi angka 60.
Di sisi lain, garis persinggungan pada logo itu menandakan keterikatan dan persaudaraan di antara bangsa Asia Afrika. Sementara warna merah mencerminkan wilayah Asia dan hijaunya Afrika.
“Dan untuk tetap mempertahankan unsur sejarah KAA pada logo baru ini, kita pastinya melakukan riset terlebih dahulu, seperti melihat dokumentasi zaman dulu, terus apa saja yang sudah dibuat mengenai acara Asia Afrika,” tutur Yahya baru-baru ini.
Logo itu sendiri dibuat Yahya bersama seorang kawannya, Firman Mustari. Mereka merupakan dua desainer yang berasal dari Bandung. Tergabung dalam Komunitas Bandung Desain Independen, keduanya diminta langsung Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil untuk menyumbang ide seputar pembuatan logo KAA beberapa bulan lalu.
Setelah bertemu Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara untuk membahas komunikasi dan identitas logo, mereka pun langsung bekerja satu malam untuk menyelesaikan desain, karena harus mendapat persetujuan dari Kementerian lain dan Presiden Jokowi.
Menurut Yahya, awalnya pihaknya membuat lima ide alternatif desain logo KAA. Namun, setelah semua rancangan diserahkan ke pihak terkait, desain inilah yang kemudian ditetapkan sebagai logo resmi.
Terlebih lagi, Yahya dan Firman menyatakan tidak dibayar sepeser pun untuk kerja kerasnya. Pihaknya hanya memegang hak cipta, selebihnya tidak ada benefit apa-apa. Menurut Firman, mereka melakukan itu karena hanya ingin mempersembahkan sesuatu bagi bangsa Indonesia. (adv)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/kaa_20150416_173956.jpg)