Breaking News:

Daripada Jadi Beban Negara, Pemerintah Pertimbangkan PNS Malas Pensiun Dini

Kementerian PAN-RB akan mempertimbangkan anjuran pensiun dini bagi pegawai negeri sipil (PNS) yang malas bekerja.

TRIBUNNEWS/HERUDIN
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi saat acara pengukuhan sebagai Guru Besar di Universitas Nasional (Unas), Jakarta Selatan, Sabtu (23/5/2015). Yuddy yang telah mendapat gelar profesor bidang Ilmu Pembangunan Ekonomi Industri dan Kebijakan Publik adalah Guru Besar termuda di Unas. Pengukuhan ini dihadiri sejumlah tokoh, diantaranya Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Aburizal Bakrie. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

Tribunnews.com, Jakarta — Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Yuddy Chrisnandi mengatakan, Kementerian PAN-RB akan mempertimbangkan anjuran pensiun dini bagi pegawai negeri sipil (PNS) yang malas bekerja. PNS malas, kata dia, akan menjadi beban bagi pemerintah.

"Pensiun dini bagi PNS malas bisa dipertimbangkan, bisa dikaji, untuk penyegaran. Daripada dia malas menjadi beban pemerintah, kalau tidak mau kerja lebih baik ada penyegaran sumber daya manusia andal," kata Yuddy, di Jakarta, Rabu (3/6/2015).

Meski demikian, Yuddy menekankan, pemerintah tidak bisa serta-merta memberhentikan atau meminta PNS untuk pensiun dini karena ada persyaratan dan proses yang tidak mudah.

"Dalam ketentuannya, PNS bisa diberhentikan kalau tersangkut tindak pidana, karena keinginan sendiri, serta karena tindakan indisipliner yang masif," kata Yuddy.

Yuddy mengatakan, pensiun dini juga dapat diambil oleh PNS muda yang berprestasi, yang ingin berkarier di bidang lain di luar pemerintahan.

Dia mencontohkan, jika ada seorang PNS yang kariernya cepat meningkat dan sudah sampai tahap tinggi, maka PNS itu boleh mengajukan pensiun dini karena sudah mengabdikan diri di instansinya.

"Nanti mudah-mudahan bisa diatur dalam aturannya mengenai pensiun dini, khusus PNS berprestasi misalnya, syaratnya harus sudah 20 tahun di instansinya," kata dia.

Editor: Gusti Sawabi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved