Breaking News:

Ibadah Haji 2015

Jemaah Berpotensi Kelebihan Masa Tinggal Akibat Pindah Kloter

Lambatnya penerimaan visa yang dialami sejumlah jemaah calon haji berdampak pada masa tinggal mereka selama berada di Tanah Suci.

Tribun Pekanbaru/Rinal Sagita
Samsinar binti Jamaludin (89), nenek ini adalah jemaah calon haji (JCH) tertua di Kloter 9 Riau. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Adi Suhendi

TRIBUNNEWS.COM, MADINAH - Lambatnya penerimaan visa yang dialami sejumlah jemaah calon haji berdampak pada masa tinggal mereka selama berada di Tanah Suci, karena mereka berpindah kelompok terbang saat pemberangkatan.

Kepala Seksi Kedatangan dan Pemulangan Jemaah Haji Daerah Kerja Airport PPIH Arab Saudi, Edayanti Dasril Munir, menjelaskan berdasarkan kesepakatan dengan pihak maskapai penerbangan yang melayani jemaah Indonesia, pindah kloter hanya bisa dilakukan dengan dua alasan. Pertama, penggabungan kloter karena alasan suami isteri. Kedua, karena alasan tugas. Bila ketentuan tersebut dijalankan tentunya tidak akan ada perubahan kursi penerbangan sejak awal.

"Sementara kasus yang terjadi saat ini karena permasalahan visa. Sebenarnya kalau dia itu di kloter-kloter awal kosong dan diambilkan dari kloter-kloter terakhir misalnya kloter Solo 1 open sitnya 30, kemudian diambil dari kloter 3 dan 4 yang sudah masuk, dia masuk ke kloter 1, itu tidak ada masalah dari sisi manifes. Pulangnya pun semoga seperti itu," ungkap Edayanti di Kantor Misi Haji Indonesia di Madinah, Selasa (2/9/2015).

Tetapi permasalahannya dari sisi penerbangan, bila jemaah kembali ke kloter aslinya misal seorang jemaah yang awalnya harusnya masuk dalam kloter 1, kemudian karena kendala visa menjadi bergabung dengan kloter 5. Saat di tanah suci, jemaah tersebut meminta kembali ke kloter aslinya sementara kursi penerbangannya sudah diisi dari orang kloter lain, tentu hal tersebut akan berdampak terhadap perubahan data kursi penerbangan.

Selain itu, pihak seksi kedatangan dan pemulangan harus kembali duduk bersama dengan pihak Garuda dan Saudi Arabia Airlines selaku maskapai penerbangan yang melayani keberangkatan dan kepulangan jemaah haji Indonesia. Mengingat bila ada jemaah yang berpindah kloter maka terbuka kemungkinan jemaah akan lebih cepat pulang atau justru kelebihan masa tinggal di tanah suci dari yang dibataskan pemerintah 39 hari.

"Misalnya dia awalnya kloter 5 karena dia harus masuk ke kloter 1 untuk mengisi kursi pesawat yang kosong dan jemaah yang awalnya dikloter 1 ada di kloter 7. Jika jemaah yang ada dikloter 7, ingin masuk ke kloter 1, kemudian yang dari kloter 1 kembali ke kloter 5 ini yang akan mengacak adut manifest yang ada," ungkap dia.

Kedatangan dan kepulangan jemaah sudah masuk dalam sebuah data base sistem. Tentu sistem pendataan tersebut bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan penyesuaian kembali. Bila ada beberapa jemaah yang berangkat belakangan lebih awal pulangnya tentu seorang jemaah masa tinggalnya di tanah suci tidak maksimal 39 hari.

"Itu mungkin tidak masalah, tapi bagi mereka yang harusnya masuk kloter tengah kemudian masuk ke kloter awal pada saat berangkat kemudian pada saat pemulangan minta ke kloter semula itu yang akan menjadi pertambahan masa tinggal bukan 39 hari," terang Edayanti.

Kelebihan masa tinggal jemaah tersebut yang akan menjadi perasoalan dikarenakan dalan kontrak pemerintah dengan pihak maskapai penerbangan jemaah tidak boleh melebihi masa tinggal di tanah suci 39 hari. Bila jemaah kelebihan masa tinggal maka akan ada penalti itu berlaku bila kelebihan masa tinggal jemaah diakibatkan permasalahan pihak maskapai. Beda dalam kasus sekarang ini, kelebihan masa tinggal jemaah akibat permasalahan visa.

"Ini bukan beban airline karena bukan salah Garuda atau Saudi Arabia. Bukan kesalahan mereka, tidak ada beban (bagi maskapai) artinya hanya penambahan masa tinggal jemaah di sini," sambung dia.

Penulis: Adi Suhendi
Editor: Y Gustaman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved