Melalui Gerakan Merawat Sungai Brantas, P3EJ Kementerian Lingkungan Hidup Harap IKLH Dapat Meningkat

Kegiatan dengan tajuk Gerakan Kembali ke Sungai 2015 ini sekaligus untuk memecahakan Rekor MUR

Melalui Gerakan Merawat Sungai Brantas, P3EJ Kementerian Lingkungan Hidup Harap IKLH Dapat Meningkat
SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
Penguna jalan mengunakan rakit tambangan dengan biaya Rp 2.000 untuk melintasi Sungai Brantas di Desa Kemiri, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Minggu (7/12/2014). Warga terpaksa menggunakan jasa rakit tambangan ini karena pembangunan jembatan yang menghubungkan kecamatan kepanjen dan Kecamatan Pagelaran belum selesai. SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, M Zulfikar

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa (P3EJ), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama ECOTON (Ecological Observation and Wetland Conservation), mengadakan pemantauan sungai secara massal di DAS (Daerah Aliran Sungai) Brantas.

Hal itu dilakukan dalam upaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian ekosistem sungai. Pemantauan dilakukan pada 8-9 Desember 2015.

Pemantauan dilaksanakan di lima kabupaten/kota, yakni Kabupaten Gresik, Jombang, Sidorajo, Mojokerto, dan kota Mojokerto, melibatkan 1.000 siswa dari 21 sekolah dari lima kab/kota tersebut.

Kegiatan dengan tajuk Gerakan Kembali ke Sungai 2015 ini sekaligus untuk memecahakan Rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) untuk kategori Pemantauan Kualitas Air secara Biotilik dengan jumlah paling banyak (1000 siswa SD-SMA) di Sungai Brantas.

Kepala P3EJ Sugeng Priyanto mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan untuk mendorong percepatan upaya aksi nyata untuk mewujudkan mimpi keberlanjutan kehidupan di bumi sesuai tema Hari Lingkungan 2015, yaitu Mimpi dan Aksi Bersama untuk Keberlanjutan Kehidupan di Muka Bumi.

"Untuk membangun kesadaran dan kepedulian bagi semua pihak terhadap keberlanjutan kehidupan di bumi dengan mewujudkan ketahanan lingkungan melalui peningkatan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH)," kata Sugeng dalam keterangan tertulisnya.

Menurut Sugeng, indikator kualitas lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan gambaran atau indikasi awal yang memberikan kesimpulan cepat dari suatu kondisi lingkungan hidup pada lingkup dan periode tertentu.

ILKH ini, lanjut Sugeng, dapat menjadi angka atau titik referensi kualitas lingkungan apakah pada posisi yang baik atau buruk atau pada kisaran di antaranya. Indeks ini bermakna sebagai sarana pembanding atau komparasi, dimana suatu subjek relativ terhadap subjek lainnya.

IKLH juga terkait erat dengan kebutuhan sasaran pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2015-2019, yaitu terpeliharanya kualitas lingkungan hidup.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Zulfikar
Editor: Gusti Sawabi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved